Tampilkan postingan dengan label Film. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Film. Tampilkan semua postingan

Kamis, 13 Januari 2011

The Hindenburg (1975): “Perangkap” Balon Udara (Resensi Film)

Disutradarai : Robert Wise
Diproduksi : Robert Wise

Ditulis : Nelson Gidding
Richard Levinson
William Link

Dibintangi : George C. Scott
Anne Bancroft
Musik oleh : David Shire
Pembuatan film : Robert Surtees
Editing oleh : Donn Cambern
Didistribusikan oleh : Universal
Tanggal rilis (s) : 25 Desember 1975
Durasi : 125 menit
Negara : Amerika Serikat
Bahasa : Inggris


...Langit biru
Awan putih
Terbentang indah
Lukisan yang kuasa

Ku melayang
Diudara
Terbang dengan balon udaraku


Oh sungguh senangnya lintasi bumi
Oh indahnya dunia...





Begitulah tangkapan pengalaman dalam penggalan lagu “Balon Udara” yang dibawakan oleh Sherina. Entah apa yang dipikirkan oleh Zeppelin ketika menciptakannya. Menerbangkan hampir ratusan nyawa dalam “perangkap” gas helium yang mudah terbakar, tentu sebuah resiko yang harus dibayar. Dalam masa kejayaan NAZI, melayang-layang di udara, terbang bebas menyaksikan pemandangan daratan adalah salah satu impian yang tidak mudah dilakukan. Zeppelin kemudian di era tahun 1937, mewujudkan salah satu caranya. Namun ternyata, impian dan penemuannya itu dimanfaatkan oleh NAZI sebagai sebuah usaha propaganda menunjukkan kebesaran dan kejayaan imperiumnya. Apapun bisa terjadi bila berbicara soal potitik. Dan latar belakang tersebut yang dicoba dielaborasi sebagai cerita, mewarnai tragedi sejarah perjalanan salah satu alat transportasi udara ini.

Salah satu tragedi yang akan tercatat adalah tragedi balon udara Hindenburg, balon udara kebanggaan Jerman masa NAZI berjaya ini tercatat terbang di tanggal 6 Mei 1937 dan dikomandani oleh Kapten Max Pruss

Hindenburg, nama balon udara itu, berangkat dari keyakinan NAZI akan kemegahan dan kecanggihan bangsa Jerman. Menampung 97 penumpang dan puluhan awak dari daratan Jerman, ia membelah langit dengan gagah bersama kibaran logo “swastika di bagian sirip, melintasi Atlantik menuju Lakehurst, New Jersey.

Sebagai film yang dibuat di era tahun 1970 an The Hindenburg mencoba menangkap tragedi nyata tersebut. Sinematografinya memadukan tekhnik pengambilan gambar dari hitam-putih menuju ke multi-warna dan kembali lagi ke hitam-putih. Tekhnik ini merupakan salah satu terobosan kreatif yang tentu mempunyai maksud dalam pijakan jalan cerita keseluruhan. Pemirsa diajak untuk kembali ke masa silam, kemudian ketika bergerak di inti cerita maka sinematografi diubah menjadi multi warna dan kemudian kembali ke hitam putih lagi saat tragedi terjadi.

Tak hanya itu, kerangka dari balon udara dibuat sedemikian rupa mendekati aslinya dengan budget yang tak main-main banyaknya. Yang kemudian di akhir cerita replika kendaraan itu harus dikorbankan dibakar seperti layaknya tragedi nyatanya. Tak salah bila kemudian Academy Award tahun 1976 menganugerahi dengan nominasi Sinematografi terbaik, Best Art Direction, Suara Terbaik dan tentu saja tidak mengesampingkan keberhasilan film ini pada Peter Berkos untuk Efek-efek suara, juga Albert Whitlock dan Robinson Glen untuk Efek Visual.

Bila boleh membandingkan, adegan demi adegan mengingatkan adegan film Titanic di era 2000-an. Jadi bayangkan, bila di era tahun 1975 sudah mampu membuat film semegah Titanic di era 2000 an. Film ini layak mendapat kredit title sebagai film yang cukup revolusioner dalam pijakan sinematografi dan efek visual maupun audio.

Tipikal “Amerika”

Dibuat sebagai rekonstruksi peristiwa sejarah atas meledaknya Hindenburg secara misterius, jalan cerita serta plot yang dibangun di dalamnya dibuat dengan konsep fiksi, termasuk plot sabotase yang menjadi inti cerita. Tidak hanya memuat rekonstruksi meledaknya Hindenburg sebagai klimaks, The Hindenburg juga sebenarnya memasukkan tragedi Graf Zeppelin dan mengganti nama beberapa nama tokoh yang termasuk dalam daftar korban. Tidak hanya itu beberapa nama tokoh pun ditambahkan.

Apa yang tersaksikan adalah bagaimana pola pikir industri perfilman Amerika memandang sejarah tragedi penerbangan Jerman-NAZI. Dalam kebanyakan film produksi Amerika syarat yang kerap terlihat adalah harus mempunyai aktor hero yang menonjol.

Kali ini tokoh utamanya Kolonel Franz Ritter berusaha menyelidiki benar atau tidaknya ancaman bom Kathie Rauch yang mengirimkan surat ke Kedutaan Besar Jerman di Washington DC. Kathie menyatakan bahwa Hindenburg akan meledak setelah mencapai New York. Bersama Martin Vogel, yang adalah seorang perwira Gestapo, Ritter memata-matai penumpang juga awak kabin dan menyisir berbagai kemungkinan pelaku peledakan Hindenburg. Mereka melakukan penyamaran dengan berpura-pura menjadi fotografer.

Kathie Rauch tidak sepenuhnya salah, Boerth, seorang anti-NAZI, salah satu awak kabin, merencanakan sebuah aksi sabotase. Ia meletakkan sebuah bom di sebuah partisi tambalan balon. Dengan serangkaian aksi penyelidikan, detektif-detektif-an, kait mengkait fakta, Ritter mengetahui maksud Boerth. Bukan menangkap boerth, tapi Ritter malah bersimpati karena alasan Ritter merencanakan aksi peledakan bunuh diri karena ia ingin membungkam NAZI dengan alat symbol kejayaannya, balon udara Hindenburg. Boerth malah mengajak Ritter membantunya dengan meminta informasi kapan balon udara dikosongkan. Ritter memang menerima usul Boerth asalkan ada jaminan bahwa tidak ada korban nyawa sipil yang dikorbankan atas aksi tersebut. Ia kemudian juga memberitahukan sebuah perkiraan waktu, bila Boerth dapat menjalankan aksinya yaitu sekitar jam setengah 8 malam. Penunjuk waktu bom akhirnya disetel pada waktu tersebut. Malangnya, karena cuaca buruk Hindenburg baru merapat di New Jersey pukul 19.15 dan penumpang belum juga mendapat perintah untuk turun. Sesuai waktu yang disetel pada pukul setengah 8 malam, Hindenburg meledak. Dan memberangus simbol kemegahan intelektual Jerman-NAZI.

Era tahun 70 an erat kaitannya dengan masa-masa kejayaan dari film detektif spionase, sebut saja James Bond. Hero yang satu ini berpakaian klimis, sisir belah pinggir samping dan minyak rambut. Jangan lupa dengan dandanan necisnya. Bagaimana dengan tokoh-tokoh Hindenburg? Seperti itulah dandanannya, sebut saja jas necis khas James Bond lekat menempel, sangat jauh dari kesan kumal masa resesi tahun 1930-an akhir. Yah mungkin saja hal itu karena penumpang Hindenburg adalah orang-orang kaya.

Selebihnya, ini adalah film megah nan mahal, meski di kalangan publik sendiri berkembang banyak kritik mengenai kegagalan membangun plot cerita yang cambur baur memadukan fiksi dengan sejarah. Banyak logika jalan cerita yang janggal dan luang, bahkan unsur sejarah sendiri pun banyak mengikutsertakan tragedi sejarah lain, yang entah disengaja atau tidak alih-alih sebagai dramatisasi cerita, namun malah mengaburkan sejarah yang ada. Seharusnya hal tersebut tidak boleh terjadi bila penulis skrip tetap konsisten mempertahankan judul “The Hindenburg” yang sudah lekat dengan peristiwa sejarah. Karena film bisa juga merupakan sebuah dokumentasi sejarah, apa jadinya bila sejarah diputarbalikkan, dikarang-karang bahkan memasukkan unsur cerita lain yang sebenarnya tidak ada sangkut pautnya dengan cerita aslinya.

Rabu, 01 Desember 2010

Little Black Book : Rahasia yang Menunggu Terungkap


CAST: STACY - Brittany Murphy DEREK - Ron Livingston KIPPIE KANN - Kathy Bates BARB - Holly Hunter JOYCE - Julianne Nicholson MOM - Sharon Lawrence CARL - Stephen Tobolowsky IRA - Kevin Sussman DR. RACHEL KEYES - Rashida Jones LULU FRITZ - Josie Maran LARRY - Jason Antoon RANDOM - Gavin Rossdale PHIL - Cress Williams BEAN - Dave Annable



CREW: Director: Nick Hurran Written By: Elisa Bell and Melissa Carter Story By: Melissa Carter Producers: Elaine Goldsmith-Thomas, Deborah Schindler, William Sherak and Jason Shuman





Buku harian memang menjadi sesuatu yang tidak bisa dipungkiri menjadi sesuatu benda yang menggambarkan pribadi seseorang secara utuh. Di dalamnya berisi tak hanya cerita atau pengalaman pribadi namun juga rahasia-rahasia paling tersembunyi dari kisah hidup seseorang. Kalau dulu buku harian berbentuk cetak dan kertas, kini revolusi baru diciptakan dalam bentuk tekhnologi. Memuat jutaan rahasia mulai cerita, foto-foto pribadi, hingga nomor kontak mantan pacar



Mungkin rahasia seharusnya tetap menjadi rahasia saja, dan tak usah dibuka.



Kurang lebih seperti itu, kutipan dialog internal dari salah satu tokohnya, yang menjadi titik balik dari film ini.



Sinopsis



Cerita berawal dari kecemburuan Stacy Holt (Brittany Murphy) seorang kru dari sebuah reality-show TV yang ingin menguji kekasihnya Derek (Ron Livingston) atas kesetiaan dan ingin tahu bagaimana masa silam kekasihnya itu. Ia mencari tahu lewat Palm Tungsten C (semacam tekhnologi mirip i-Phone) milik Derek. Dari penelusurannya, ia jadi tahu bahwa Derek pernah mempunyai hubungan dengan tiga perempuan; Lulu Firzt seorang model perempuan terkenal, Joyce seorang koki restoran, dan seorang dokter ginekologi Rachel Keyes



Untuk mengorek-ngorek masa lalu, Derek, Stacy melakukan serangkaian rencana penjebakan. Ia menginterview mantan-mantan Derek dengan mengaku bahwa mereka akan dijadikan subyek utama dalam rangka acara televisi. Lulu yang dijanjikan akan mengisi segmen pembicara “Kegagalan sebuah operasi plastic”, Joyce yang dijanjikan mengisi segmen koki hotel berbakat, dan Rachel Keyes yang dijanjikan mengisi segmen penyuluhan penyakit seks menular.



Stacy selalu bercerita soal segala sesuatunya pada sahabatnya Barb yang juga seorang kru reality show tersebut. Dalam suatu hari Barb memenangkan persaingan sehat atas Stacy dan boss mereka menyetujui Barb memproduseri satu episode siaran langsung reality show tersebut. Dan apa yang terjadi bila cerita tersebut ternyata sebuah cerita milik sahabatnya, Stacy? Maka seperti demikianlah sebuah cerita kehidupan dipaparkan saat segala lekuk perselingkuhan, mata-mematai dan pengkhianatan terjalin dalam rangkaian yang utuh. Tak usah khawatir pada akhir cerita, saya pribadi masih lebih suka cerita film yang berakhir bahagia, dan film ini saya jamin mempunyai kejutan pula di akhir, sama layaknya dengan cerita kehidupan nyata yang selalu penuh kejutan.



Alur



Little Black Book (LBB) sangat cerdas mempermainkan karakter pemainnya. Penonton tentu menyadari bahwa tokoh utama di sebagian besar film adalah “orang baik-baik” namun apa yang disajikan oleh film ini berbeda, bahwa “hero” tak selalu “orang baik-baik”, bahwa manusia adalah manusia.



LBB mampu memutar persepsi tersebut sangat halus dan natural dengan menyajikan konflik batin internal para pelakonnya. Penyajian sudut pandang pertama –aku- versi Stacy mampu menggambarkan konflik batin perempuan (setidaknya saya) bahwa seperti demikianlah perasaan dan mungkin dialog-dialog yang dialami oleh perempuan yang tidak mempercayai pasangannya.



Kejujuran versus kebohongan menjadi latar utama dari cerita ini, disamping juga menggambarkan sebuah dilema ketika kita ingin tahu lebih banyak tentang rahasia hidup pasangan kita, dan mungkin rahasia hidup kita sendiri. Bahwa kadang kala sebuah rahasia ada saatnya tak perlu kita ketahui, tak perlu kita buka dan tak perlu kita korek-korek.


Seperti juga kutipan yang saya rasa bisa menjadi tema utama dari film ini,

Hell is empty. All the devils are here... (William Shakespeare, The Tempest)

Jumat, 17 September 2010

Sekelumit Ingatan : Muhammadiyah, "Sang Pencerah", Keluarga Saya dan Lingkungan Saya




Sewaktu "Sang Pencerah" tayang di layar lebar yang pertama terbersit adalah sang sutradara Hanung Bramantyo, yah… sesungguhnya pertama saya terpikat adalah ketika ia menggarap film sebelumnya Perempuan Berkalung Sorban.

Begitulah konsep hidup keluarga Muhammadiyah, ketika saya mulai tertarik pada diskusi film di beberapa stasiun tivi yang ada. Saya tak akan menjelaskan terlalu banyak tentang film tersebut, justru saya akan bercerita tentang hal-hal yang ada di kepala sehabis kami sekeluarga; saya, adik saya dan Ibu saya, menyaksikan film tersebut.

Dibesarkan dalam lingkungan keluarga bernafas ke-Muhammadiyah-an memang tidak asing di telinga saya. Kakek saya dari pihak ayah adalah penggagas Muhammadiyah Blitar, Nenek saya adalah pembina Aisyiyah dan sebuah panti asuhan, sekolah dan Rumah Sakit Aisyiyah Muhammadiyah pertama di kota itu. Sementara nenek saya dari pihak Ibu adalah simpatisan Muhammadiyah Blitar. Ayah saya pernah bercerita, bahwa dalam menghidupi keberlangsungan panti dan organisasi selain mengandalkan donasi, Muhammadiyah tak pernah sekalipun memungut uang apapun dari anggotanya. Nenek saya lebih banyak memutar otak mengajarkan anak-anak asuhnya untuk “berkarya sendiri” menghidupi kebutuhan panti sendiri. Tak jarang nenek dan kakek menyisihkan uang dari kocek pribadi mereka, gaji pegawai PJKA pada masa itu sepertinya sudah tergolong mapan meski untuk menghidupi ke 10 anak (hahahaha.. keluarga yang sangat besar), dibanding keluarga yang lain di era masa penjajahan. Nenek membantu dengan berjualan kue. Kakek saya juga lumayan mahir bermain biola, dan salah satu putranya juga ada yang mewarisi kebisaannya tersebut. Musik merupakan suatu budaya keluarga yang tak pernah lepas dari keluarga ayah saya saat itu. Selain itu Muhammadiyah Blitar juga memiliki akses olahraga rintisan, sebuah lapangan tennis, kakek saya yang juga katanya ada darah ke-Belanda-belandaan, juga mampu bermain tennis, kebisaannya itupun diwariskan ke anaknya.

Sayangnya, ketika masa penjajahan Jepang, semua itu harus lambat laun direlakan keberadaannya. Muhammadiyah Blitar sempat mengalami masa-masa kebangkrutan, anak-anak panti akhirnya diadopsi oleh sesama pengurus, dan keberadaan Rumah Sakit dan Sekolah untuk sementara dikontrol oleh pengurus yang mampu. Masing-masing mengambil tanggungjawab sesuai kemampuan. Di masa itu, nenek dan kakek saya masih mampu menyantuni dan mengadopsi beberapa anak asuh salah satunya malah tinggal bersama keluarga ayah saya, almarhum pakdhe angkat saya. Beliau adalah seorang anak yatim, martir perang mempertahankan kemerdekaan yang terkena cipratan amunisi sehingga matanya mengalami kebutaan temporer.

Dengan latar belakang Muhammadiyah kami mengalami masa-masa kegamangan ketika berada di lingkungan yang berbeda keyakinan dengan kami. Contoh yang sederhana seperti demikian, saya suka bingung ketika keluarga saya suka ditanya oleh orang-orang ketika Ramadhan tiba, sementara kami sendiri tidak pernah menerapkan tradisi itu.

“Kok, nggak pulang buat nyekar?”

Nyekar dalam budaya Islam – Kejawen adalah budaya berziarah ke makam mendoakan di makam itu juga dan mengirim do’a. Kemudian kata nyekar sendiri berasal dari kata sekar dalam bahasa Jawa yang berarti, bunga. Nyekar artinya upacara tabur bunga di makam, bunga yang ditabur juga harus memenuhi syarat tertentu, kembang boreh kalau diistilahkan terdiri dari bunga tujuh rupa, saya lupa pastinya bunga apa saja itu. Kemudian di makam membaca bacaan Tahlil dan surat Yasin.

Keluarga kami juga sering dicap tidak solider dengan lingkungan sekitar kalau misalnya di lingkungan rumah kami ada yang mengadakan tour ziarah ke makam Wali, kemudian memohonkan hajat yang diingini di depan makam Wali. Keluarga kami memilih tidak ikut acara tersebut dan lebih baik tinggal di rumah, paling ibu hanya bisik-bisik menasehati saya. Jasad orang mati yang jadi tanah, mana bisa mengabulkan permintaan, begitu katanya berulang-ulang. Padahal kalau boleh merunut, ada garis keturunan Sunan Ampel di tubuh kakek saya.

“Lha wong, trah’e wae dungone nang omah kok, gek kesrantan-srantan men, wong-wong kae ziarah sing dudu trah’e nang makam wali, trah’e wae dudu. Kuburan keluargane mbuh diurus po ora. Nggur nggo opo?” (red.Yang punya garis keturunan langsung saja berdoanya di rumah, kok ya menyengsengsarakan sendiri orang-orang itu ziarah ke makam wali, padahal bukan garis keturunannya. Kuburan keluarganya entah diurus atau tidak. Lalu untuk apa?)

“Teko lemah, yo baline ndhuk lemah. Ziarah iku mek digawe ngeling-ngeling trah. Soko endi muasal’e. Dudu digawe klenik opomaneh nyuwun-nyuwun nang ngarep sak liyane Allah” (red. “Dari tanah, akan kembali ke tanah. Ziarah itu diperlukan untuk mengingat-ngingat garis keturunan. Bukan dipakai untuk hal-hal yang berbau klenik apalagi dipakai untuk meminta selain kepada Allah")

Satu hal yang membuat saya jadi mikir adalah ketika ibu saya juga tak pernah datang ke acara pengajian Yasinan ibu-ibu. Ibu memilih mengaji sendiri di rumah atau pengajian-pengajan tadarusan yang umum. Kata-kata ibu juga kemudian saya temukan mirip dengan salah satu kutipan di film “Sang Pencerah”

“Gek ngaji kok mbrebeni tonggone, njur Allah iku ngerti suara ati kok arep dibengoki. Lek arep syiar yo ngajine ditepakke, harakat’e, makhraj’e, tajwid’e. Lek nggak nggenah malah nggowo syiar ala nang Islam.” (red. Mengaji kok mengganggu tetangganya. Allah mengerti suara hati kok pake diteriaki. Kalau mau syiar –red.berdakwah- ya ngajinya diperbaiki, harakatnya, makhrajnya, tajwidnya. Kalau ngajinya tidak benar nantinya malah membawa syiar yang jelek pada Islam)

Dan mungkin itu hanya sebagian kecil cerita-cerita mengenai Muhammadiyah, keluarga saya, saya dan lingkungan sekitar saya. Yang jelas keluarga saya tak pernah menolak hantaran berkat tetangga yang kebetulan mampir ke rumah dan meniatkan bahwa tetangga saya sedang berbagi-bagi rejeki, meski kemudian biasanya akan ada secarik tulisan yang tak pernah kami gubris, yang berbunyi :

“Alhamdulillah, usia anak kami telah genap 40 hari” atau “Telah genap 100 hari meninggalnya Ibunda kami”

Yang jelas ibu kemudian berkata,

“Tidak boleh menolak rezeki. Mubadzir itu temannya syaitan”

Kemudian kalau misalnya ketika sisa makanan kami masih ada di piring makan, nenek pernah mengajarkan saya,

“Diniatkan ngasih makan buat hewan-hewan kecil. Jangan diniatkan membuang-buang makanan, sesungguhnya mubadzir itu temannya syaitan”

Begitulah keluarga saya, yang setelah pulang menonton “Sang Pencerah” saya jadi teringat Almarhum Kakek-Nenek saya, dan ajaran-ajaran beliau. Meski kemudian ketika sampai di rumah, saya harus menerima omelan ibu saya ketika saya menyetel tivi dan menonton acara misteri “Dunia Lain”. Jiakakakakakakakakak…. :)

Rabu, 17 Maret 2010

Night and Fog (2009): Potret Korban Kekerasan Dalam Rumah Tangga (Resensi Film)


Genre: Drama
Starring: : Simon Yam Tat Wah
Zhang Jing Chu
Jacqueline Law Wai Kuen
Amy Tan En Mei
Audrey Chan - Ariel Chan
Directed by Ann Hui
Written by Cheung King Wai
Release year: 2009
Language: Cantonese
Subtitle: English

29th Hong Kong Film Awards
• Nominated: Best Director (Ann Hui)
• Nominated: Best Actor (Simon Yam)
• Nominated: Best Actress (Zhang Jingchu)


Seperti yang saya duga sebelumnya Night ang Fog (2009) menjadi tontonan yang menarik untuk dicermati baik dari segi teknis perfilman (sinematografi dan seni peran) maupun dari segi pesan dan inti materi ceritanya yang sarat pesan yang humanis, menyentuh dan nyata.

Night and Fog merupakan potret kasus nyata yang dialami oleh mayoritas korban kekerasan dalam rumah tangga. Kemiskinan dan kurangnya kepedulian pihak terkait menjadi titik awal pembuka yang menohok saya ketika menyaksikan thriller film ini. Night and Fog kental dengan balutan cerita problematika rumah tangga, persahabatan dan kepedulian, beban psikologis dan depresi dalam latar belakang kemiskinan. Night and Fog dibuka dengan sebuah ending yang menyayat ketika ditemukan mayat pembunuhan keluarga yang ditengarai dilakukan oleh sang suami. Kemudian karena ketakutan akan bertanggungjawab sang suami akhirnya memutuskan untuk mencederai dirinya sendiri. Sayangnya, pisau yang ia gunakan terlalu dalam melukai dirinya dan hal tersebut menyebabkan kematiannya.

Gadis desa Hiu Ling (Zhang Jingchu) menikahi seorang pria Hongkong, Sum (Simon Yam), yang sebelumnya telah mempunyai anak laki-laki dewasa, akibat ia telah hamil dari Sum. Kesenjangan umur mereka sangat jauh. Hiu Ling dan keluarga sebelumnya mempercayai bahwa Sum akan mampu mensejahterakan keluarganya. Namun ternyata keliru. Adik Hiu Ling harus menerima pelecehan seksual dari Sum, sehingga membuatnya harus pergi ke Szenchen sebuah kota yang teramat jauh dari tempat tinggalnya. Hiu Ling yang hidupnya bergantung pada Sum yang ternyata hanya pengangguran dan mengandalkan tunjangan pengangguran dari pemerintah yang tidak seberapa, harus menerima pil pahit akan ketidakmandirian Sum. Hiu Ling, Sum dan dua anak perempuannya yang kembar (Audrey Chan - Ariel Chan) akhirnya pindah ke sebuah rumah susun di Tin Shui Wai sebuah kota dengan potret kesuraman yang pekat. Untuk menyokong kehidupan, Hiu Ling akhirnya bekerja part time sebagai pelayan restoran. Kecemburuan Sum timbul merasa harga dirinya terinjak akibat istrinya yang mampu hidup mandiri dan menghasilkan pendapatan dalam pekerjaan. Meski begitu uang Hiu Ling tidak cukup untuk menyokong kehidupan keluarga tersebut, dilanda frustasi akibat Sum yang tidak bekerja, Hiu Ling menjadi mengungkit-ngungkit sifat buruk Sum yang pemalas ini. Sum yang tidak bekerja akhirnya melampiaskan kekesalan tidak hanya melalui kekerasan psikologis berupa sering marah maupun mengintimidasi Hiu Ling namun juga pada anak-anak mereka. Kemarahan Sum sendiri juga berkembang menjadi kekerasan fisik

Pertengkaran mereka pun harus sering dilihat oleh anak-anak perempuannya. Salah satu anak kembarnya menjadi seorang yang lambat belajar (slow learner), tidak banyak bicara dan menjadi seorang anak yang tidak stabil perilakunya. Sedangkan kakaknya mengambil peranan sebagai kakak yang melindungi, mengambil peranan menjadi guru, dan harus menjawab semua pertanyaan yang diajukan untuk adiknya.

Tak kuat dengan perlakuan suaminya, suatu saat ia harus menginap di penampungan perempuan korban Kekerasan Dalam Rumah Tangga, ia mengaku merasa bebas. Setelah dilakukan pemeriksaan dengan petugas sosial diptuskan mereka harus tinggal terpisah. Kedua anak mereka ikut Hiu Ling tinggal bersama kakak dan adiknya di Szechen, dan suaminya harus tinggal di Hongkong sampai mereka memutuskan rujuk kembali. Padahal bukan keputusan semacam itu yang diinginkan Hiu Ling, Hiu Ling ingin berpisah dengan Sum dan bisa hidup mandiri dan mendapatkan tunjangan bantuan dari pemerintah.

Cerita Night and Fog dialirkan dengan menggunakan flashback. Film ini juga cukup cerdas digulirkan dengan melibatkan sosok orang ketiga bercerita, dalam hal ini saksi-saksi yang diinterograsi dalam kasus pembunuhan dan bunuh diri di Tin Shui Wai. Tarikan cerita juga cukup cerdas menangkap sosok Hiu Ling mulai dari masa kecil hingga kematiannya. Gambar yang dihadirkan dalam film ini juga cukup menarik, ketika saya melihat thriller nya saya melihat gambar senja terbalik. Hal ini menarik perhatian saya dan cukup unik.

Pemilihan judul “Night and Fog” juga cukup menggelitik saya, karena ketika saya melakukan penelusuran, Night and Fog juga merupakan judul sebuah film dokumenter tentang kamp konsentrasi NAZI, apakah judul tersebut diambil dari judul film tersebut. Mungkin analisis ini hanya praduga saya, saya jadi menautkan mungkin ada benarnya juga karena ketika Hiu Ling dan kedua anaknya memasuki rumah petak susunnya tersebut ia seperti hanya menunggu bom waktu frustasi yang meledak akibat kemiskinan dan kegilaan maupun juga depresi yang dimiliki oleh Sum.

Dan akhirnya, film ini saya anggap sangat proporsional menempatkan manusia tidak hanya berkisar pada kotak hitam yang terlalu hitam dan putih yang terlalu putih. Hiu Ling digambarkan juga mempunyai sisi ketidakpedulian terhadap perkembangan putri-putrinya. Dan Sum dalam cerita ini memang digambarkan lebih mempunyai kedekatan pada kedua putrinya tersebut.

Nisa Ayu Amalia
Penggemar Buku dan Film, Surabaya

Jumat, 05 Maret 2010

Georgia Rule (2007)- Film


Category:Movies
Genre: Drama

Cast


"Kepribadian seseorang dibentuk atas nature dan nurture"

Tiga perempuan beda generasi, mempunyai prinsip masing-masing. Namun dari gen yang sama. Sama sama keras kepala dalam memegang prinsipnya.

Cerita diawali dari perasaan ketidakmampuan seorang ibu, Lily (Felicity Huffman) dalam mengasuh Rachel (Lindsay Lohan), mulai dari kegagalan Rachel dalam lulus ujian SMU dengan tepat waktu, sampai sikap "liar" Rachel yang tidak menuruti diucapkan oleh Lily. Akhirnya Rachel dititipkan ke Neneknya, Matriarch Georgia (Jane Fonda). Lily sangat mengeluhkan sikap Rachel yang tidak bisa diatur, pembuat masalah, dan selalu berbohong. Rachel membenci sikap Lily yang tidak peduli, pemabuk dan perokok berat. Lily mempunyai ketidaksetujuan terhadap Georgia atas gaya pengasuhan yang terlalu ketat, disiplin bahkan menjurus otoriter.

Intrik psikologis sangat apik dimainkan oleh Mark Andrus sang penulis naskah memainkan logika psikologi pencarian cinta tak bersyarat tokoh-tokohnya, kebingungan pencarian jati diri akibat ketidakkonsistenan gaya pengasuhan yang diterapkan antara Georgia dan Lily, juga pencarian akan kebohongan dan kebenaran sejati.

Kebingungan Rachel dalam mencari-cari pemenuhan kebutuhan cinta yang tanpa syarat terangkum atas kerinduannya akan figur seorang ayah. Lily pergi keluar kota meninggalkan ayah Rachel dan jatuh cinta pada seorang pengacara yang melakukan tindakan pelecehan pada Rachel pada saat rachel berumur 12 hingga 14 tahun. Trauma masa kecil ini lah yang membuat Rachel tidak nyaman akan perkembangan kepribadian dan keadaan psikologisnya. Ia mulai merasakan kebingungan dalam menentukan rasa "cinta" yang diberikan oleh orang lain, apakah itu nyata dan tak bersyarat, ataukah hanya sebuah pemanfaatan seperti yang dilakukan ayah tirinya padanya.

Sehabis menonton film ini saya jadi merenung gaya pengasuhan Mak-Pak saya, puisi saya yang judulnya "Perintah Sang Jenderal (Ver. Orangtua)" dan kata2 dosen kesayangan saya yang bunyinya kira2 seperti ini.

"Bila mau memilih, gaya pengasuhan otoriter, lebih baik daripada gaya pengasuhan permisif"

Kecemasan akibat takut salah, lebih tidak menimbulkan ketidak"berbahaya"an dibandingkan sebuah kecemasan pencarian jati diri.

Benarkah?

Perhaps Love (2005)


Category:Movies
Genre: Romance

CAST
Apa yang kau dapati ketika hubungan begitu membingungkan untuk didefinisikan?

Hobby menonton film aku temukan kembali ketika menghadapi kebingungan ditengah mengisi waktu liburan. Saat itu posisi modem speedy dan laptop rusak secara bersamaan. Sehingga bingung mencari hiburan. Untung di rumah pasang tivi kabel.

Plot cerita film drama musikal ini mengambil tema cinta segitiga. Bukan hanya atas tiga tokoh yang terbelit atas cinta mereka, namun tiga elemen yang mereka cintai, yaitu "cinta, cita-cita, dan kehidupan bahagia" .

Kisah cinta masa perkuliahan Lian Jiantung (Takeshi Kaneshiro) pada Suen Na (Zhou Xun), menghadapi cobaan atas deraan himpitan perekonomian yang dihadapi keduanya. Untuk menyokong itu semua, Lian Jiantung dan Suen Na berusaha mewujudkan cita-citanya, Lian Jiantung bercita-cita menjadi penulis script, dan Suen Na bercita-cita menjadi seorang aktris. Cobaan berturut-turut dihadapi Suen Na dalam mencapai obsesi nya. Hingga ia memutuskan meninggalkan Lian Jiantung untuk mengejar cita-citanya.

Sepuluh tahun kemudian, mereka dipertemukan kembali oleh Nip Man (Jacky Cheung) seorang sutradara terkenal yang telah menikahi Suen Na. Mereka dipertemukan dalam sebuah naskah besutan Nip Man, dan mereka bertiga bermain peran di dalamnya. Lian Jiantung pun telah bergeser cita-citanya, tidak menjadi seorang penulis script, namun menjadi aktor, profesi sama yang dijalani oleh Suen Na, kekasih masa remajanya.

Meski, berpisah sekian lama Lian Jiantung masih menyimpan perasaan cintanya yang mendalam pada Suen Na. Dan Suen Na diambang kebimbangan antara setia pada Nip Man, yang digambarkan sebagai seorang yang menghapus kenangan masa lalu Suen Na, dan memilih cinta sejatinya pada Lian Jiantung.

Ending dari kisah roman ini dibuat khas "roman" dalam artian meski digambarkan bahwa Nip Man gagal memiliki cinta Suen Na, namun itu hanya berkisar dalam naskah film nya saja. Dan pada akhirnya penulis membiarkan penikmat mereka-reka kisah percintaan mereka.

Ketika saya menonton film ini, saya jadi teringat dengan film musikal "Moulin Rouge" baik dari tema-tema aransemen musik, tata artistik, maupun tata gerak.

Untuk sisanya, silakan nikmati saja alunan apik percintaan tiga tokoh dan tiga elemen percintaan (mungkin), yang film ini tawarkan.

Next ! - France Movies (Apa yang akan terjadi berikutnya?)


Category:Movies
Genre: Drama
Siapa bilang hidup gampang ditebak?

Actors : Alexandra Lamy, Clovis Cornillac, Juliette Roudet, Jerry Rudes, Rastko Jankovic, Charlotte Nguyen, Marie-Christine Adam, Louis Do de Lencquesaing , Myriam Tekaïa, Charlie Nune, Juliette Poissonnier, Samantha Benoit, Roland Menou, Marie Micla

Setting film ini mengambil suasana di balik layar pembuatan film. Josephine-Jo (Alexandra Lamy) merupakan seorang sutradara casting lajang yang baru saja menghadapi kematian anjingnya Dee-Dee dan bertemu dengan Bernard (Clovis Cornillac) yang saat itu mempunyai perusahaan jasa konsultan pemakaman anjing milik saudaranya.

Dilanda kesedihan yang luar biasa, Jo secara kebetulan bertemu seorang yang mengaku sebagai pengungsi imigran dari Serbia yang butuh tempat tinggal, ia didesak untuk menolong pengungsi tersebut untuk menampungnya semalam di rumahnya. Dan dengan terpaksa Jo harus meluluskan paksaan pengungsi Serbia tersebut. Tidak dibayangkan sebelumnya si pengungsi Serbia tersebut malah mengusir Jo dari apartemennya sendiri.

Dengan berbagai persoalan tempat pekerjaannya, ia dipertemukan dengan Bernard kembali saat keesokan harinya ia diminta untuk mengaudisi bintang film. Karena pada kesan pertama Jo telah mempunyai pandangan negatif terhadap Bernard maka ia mengacuhkan Bernard yang sangat berkeinginan kuat untuk lolos casting tersebut.

Singkat cerita, kisah digulirkan pada peristiwa-peristiwa dimana Bernard tetap saja menjadi "penguntit" Jo. Dan dengan pesona yang tidak dibayangkan sebelumnya oleh Jo, Jo jatuh cinta pada Bernard. Padahal, Bernard merupakan sosok lelaki yang jauh dari konsep ideal versi Jo. Namun gaya bernard yang spontan dan kocak dalam menyelesaikan permasalahan kerja dan pribadi Jo membuat Jo semakin tertarik pada Bernard.

Akankah Jo dan Bernard bersama? Bagaimana Bernard menyelesaikan masalah2 Jo?

Saya selalu ingat jodoh, nasib baik ataupun peristiwa-peristiwa dalam hidup kita datang-dan perginya memang sangat tidak terduga. Sama seperti Next ! rupanya konsep seperti itulah cerita ini digulirkan perlahan, kejadian-kejadian yang tak terduga, namun bukan sebuah kebetulan yang dipaksakan untuk terjadi. Komedinya pun alami. Dan entah mengapa, ada saat-saat saya juga haru biru saat menontonnya (:)) *terus terang hal ini sangatttt... jarang terjadi :D), dan juga ada saat-saat saya bisa tertawa begitu lepas menertawai adegan-adegan dalam film tersebut.

Siapkan kursi yang paling nyaman, tidak perlu sekotak tissue, cukup sehelai-helai saja, dan tontonlah bersama pasangan anda. Sungguh ini adalah film yang manis :)

Partition (2007) - Film


Category:Movies
Genre: Romance

- Para pemeran

* Jimi Mistry ... Gian Singh
* Kristin Kreuk ... Naseem Khan
* Neve Campbell ... Margaret Stilwell
* John Light ... Walter Hankins
* Irfan Khan ... Avtar
* Madhur Jaffrey ... Shanti Singh
* Arya Babbar ... Akbar Khan
* Lushin Dubey ... Mumtaz
* Chenier Hundal ... Zakir Khan
* Jesse Moss ... Andrew Stilwell
* Jaden Rain ... Vijay Singh


Cinta dan pemisahan. Cerita yang cukup banyak saya kenal.

Banyak pujangga klasik yang menceritakan cerita cinta yang berakhir tragis. Sebut saja satu contoh William Shakespeare dalam romance-tragedy nya yang termasyhur Romeo and Juliet.

Partition, adalah film produksi negara Kanada yang mengisahkan kisah percintaan dan kisah perjuangan penyatuan dari Naseem (Kristin Kreuk), seorang gadis keturunan Muslim, dengan Gian Singh ((Jimi Mistry), seorang pemuda bekas tentara India keturunan Sikh. Setting waktu film ditempatkan pada saat India, tengah hangat-hangatnya dalam proses pemisahan daerah teritorial akibat perbedaan kesukuan dan agama.

Cerita diawali dengan kepulangan Gian dari medan perang dan malah mendapati negaranya telah dalam suatu sengketa perpecahan. Suatu saat Gian bertemu dengan Naseem dalam situasi Naseem terjebak kerusuhan etnis dalam suatu wilayah. Ayahnya terbunuh dalam konflik tersebut akibat ia merupakan seseorang yang beragama Muslim. Gian mempertaruhkan nyawanya saat melindungi Naseem. Bahkan ia menampung Naseem dan memberikan tempat tinggal yang layak pada Naseem, namun ia merahasiakan identitas Naseem yang sebenarnya adalah seorang Muslim, pada orang terdekatnya.

Seiring berjalannya waktu, Naseem dan Gian saling jatuh cinta, dan menikah sesuai adat yang dianut oleh Gian. Beberapa tahun kemudian lahirlah putra mereka (Vijay).

Pada suatu hari tersiar kabar dari seorang koresponden Inggris, bahwa keluarga Naseem datang dan mencapai Pakistan. Mendengar kabar tersebut Naseem pergi ke Pakistan, sesampainya di sana dan bertemu dengan keluarga mereka, Naseem dilarang kembali ke India akibat ia menikahi seorang pemuda Sikh. sehingga ia dipaksa untuk tetap tinggal di Pakistan.

Gian yang menunggu kabar dari Naseem yang tak kunjung datang bersama Vijay yang semakin lama tumbuh besar, mendorong rasa rindunya pada Naseem. Liku-liku ia tempuh mulai dari berusaha merubah keyakinan menjadi Muslim, menempuh perjalanan yang penuh bahaya sampai pada pertentangan dengan keluarga dan birokrasi negara yang tengah dilanda pertikaian etnis yang memanas.

Berhasilkah Gian dan Vijay bertemu dengan Naseem. Berhasilkan usaha Gian dan Naseem dalam menyatukan cinta mereka, di tengah situasi sarat konflik tersebut?

Ini bukan kisah cinta yang menguras air mata, namun lebih dari itu, ini adalah sebuah kisah cinta, pengorbanan dan perjuangan yang mampu mengorek seluruh perasaan dan hati anda.

Anda tidak hanya mendapatkan sebuah kisah cinta tanpa muatan apa-apa, karena balutan konflik keluarga, historis (pemisahan Pakistan dan India) dan kultural (Muslim-Sikh) sangat kental di dalamnya, maka tak salah lagi Partition menjadi tontonan sinema yang berbobot.

Sepenggal Pengalaman Curut Betina dan Asu Jadi-Jadian yang Nonton si Mbek Lanangan


Category:Movies
Genre: Romantic Comedy

Melenceng dari tujuan semula yang pengen nonton si Mbek Lanangan di Royal, tapi akhirnya pergi ke Delta yang jaraknya dua kali jauhnya dari si Royal, karena efek psy war melihat antrean sepeda motor yang bujubuneng ngaudubilah puanjang... banget ampe harus mengalokasikan tiga lahan parkir, akibat hari itu hari libur alias hari Maulud'an.

Si Curut Betina dan Asu Jadi-Jadian pengen melewatkan malam berdua. Maklum udah lama gak keluar nonton bareng. Si Curut Betina harus merelakan sepeda motor tunggangannya kehilangan bensin hari itu (dan seperti itulah biasanya, kalau mereka pengen pacaran berdua. Untuk yang ini najiss... amit2 =)) )

Udah gitu si Curut Betina musti rela gayanya kebanting akibat penampilan rapi jali hem, selana jin dan sandal teplek femininnya musti dikontraindikasikan dengan dandanan super nggembel lengkap dengan celana selutut dan sandal jepit si Asu Jadi-Jadian. Ya... sudah lah... mungkin gara-gara itu mereka cocok.

Soal pelemnya sumpah.

Magak dan serba nanggung.

Hehhehehe!

Curut Betina sarankan buat para penonton adalah orang-orang yang lagi gak ada kerjaan kek mereka berdua, ato pengen nglakuin kerjaan laen dalam bioskop (*ups apaan tuh :p~)

Betewe, buat si Curut yang gak pernah baca bukunya si Mbek Lanangan, cukup tertarik juga buat mencari cinta-cintaannya yang segede Mbah Bronto gyahahahhahaha...

Dan malam itu ditutup dengan menu "Mie Remaja" sebagai berikut :
- Separo porsi Fuyung Hai Kepiting yang dikerikiti sama si Curut
- 3/4 porsi Kwetiauw Capcay dan Nasi Putih 1 porsi dilahap sama si Asu.
- 2 gelas teh hangat

dan semuanya dibayar di muka tanpa ngutang hehehhehehe...

sebenarnya mereka be-2 pengen beli si Roti Boy di Delta tapi berhubung udah jam 10 malam si toko udah bersiap2 badhe pulang.

*looo kok bahas makanannya thooo :))

ya wateper de nem mereka melewatkan malam berdua, menebus seharian kemaren tidak bersama ngejagain lapak buku Perpus nya ESOK.

Anti mah mereka dibilang pacaran najiss... amitt2


Sekian dan wassalam *halah2 =))

Copying Beethoven (2006)


Category: Movies

Genre: Other

Cast :

* Diane Kruger – Anna Holtz
* Ed Harris – Ludwig van Beethoven
* Matthew Goode – Martin Bauer
* Phyllida Law – Mother Canisius
* Joe Anderson – Karl van Beethoven
* Ralph Riach – Wenzel Schlemmer

Credits:

Agnieszka Holland - Director,
Stephen J. Rivele - Scriptwriter,
Christopher Wilkinson - Scriptwriter [1]
=======================================================
Cerita ini mengambil sudut pandang pemeran utama penyalin skrip partitur maestro orkestra "Ludwig Van Beethoven" Anna Holtz, seorang perempuan lajang 23 tahun yang tinggal dalam asuhan gereja, dan mempunyai guru Wenzel Schlemmer seorang penulis partitur sang maestro sebelumnya.

Wenzel saat itu sudah tak mampu lagi melayani Beethoven, karena faktor usia dan keakuratan nya yang menurun. Anna Holtz menganggap pekerjaannya ini sebagai sebuah pengabdian. Dari awal hingga akhir runutan kisah ini mengedepankan faktor motivasi nya dalam bekerja adalah sebuah bentuk pelayanan terhadap Yesus dan Gereja, meski ia bukan seorang suster. Karena detail dan kecintaannya terhadap musik, disamping kepercayaan Wenzel yang begitu besar terhadap Anna, maka diutuslah Anna untuk menggantikan Wenzel.

Pada awalnya, Beethoven tidak percaya akan kemampuan asistennya karena ia perempuan yang masih muda (adanya prasangka gender, pada saat itu tentu ranah publik untuk perempuan tidak seperti sekarang yang sudah lumayan terbuka). Namun, karena Anna menunjukkan kualitas profesionalnya, maka lambat laun Beethoven mempercayai Anna.

Perasaan patah hati, kesepian, keterasingan dalam artian mental dan psikis Beethoven, pasca goncangan bertubi-tubi, diantaranya pembangkangan anak asuhnya Karl van Beethoven yang merupakan keponakannya akibat pemaksaan sang paman (L.van Beethoven) pada dirinya yang menyuruhnya menjadi pianis padahal cita-citanya ingin menjadi anggota AD. Kemudian disusul dengan telinganya yang tuli, mewarnai detail penceritaan. Itu pulalah yang menimbulkan suatu protes Beethoven terhadap Tuhan. Setelah Anna datang, ia kemudian menganggap Anna sebagai seorang penerjemah bahasa Tuhan yang dibisikkan Tuhan kepada Beethoven.

Sebuah kutipan Beethoven : Tuhan terlalu keras berbisik padaku, sehingga aku tuli.

menjadi sebuah kecintaannya pada Tuhan, disamping ia juga merasa kecewa dengan sebuah keputusan Tuhan. Dalam masa-masa sulit tersebut bagi Beethoven Anna Holtz, membangkitkan harapannya kembali. Seperti seorang pengganti Karl sang anak didiknya. Relasi kekaguman murid-guru, dan kasih guru-murid kemudian berubah implementasi menjadi sebuah jalinan cinta companionship, saling mendukung satu sama lain.

Namun akhirnya setelah 10 tahun "kering" karya, bersama Anna Holtz, ia mempersembahkan sebuah karya fenomenal Symphony No.9 in D Minor, karya itu menjadi fenomenal karena di tengah masa2 tulinya. Pada saat itu ia mempimpin sendiri simphoni nya, Anna Holtz ia minta sebagai pengukur tempo, karena ketulian Beethoven membuatnya tak mendengar nada/suara apapun. Dan...
inilah suatu keajaiban film ini yang lain, dari versi asli 75 menit komposisi yang asli, sang editor mampu memotong dan menghadirkan bagian heroik sekaligus dramatis dari Symphony no.9 menjadi 10 menit. And... it's not bad.

Hubungan guru-murid terus berlangsung hingga suatu saat Anna menunjukkan simphony miliknya, dan dipuji oleh Beethoven. Namun karena Beethoven bukan seorang apresiator yang ulung (gegegege...) maka apresiasi dirinya malah dianggap celaan bagi Anna. Ngambeklah si Anna.

Dan sang maestro yang terkenal arogan dan tidak kenal belas kasihan itu pun mengiba-ngiba mendatangi gereja tempat Anna tinggal untuk kembali bekerjasama dengan dirinya menyusun komposisi Anna yang diklaim sebagai komposisi yang sederhana namun fenomenal.

Anna menemani hari-hari akhir sang maestro hingga akhir hayatnya.

Beberapa catatan dibalik kesuksesan "Copying Beethoven"
>> berdasar catatan tersebut tampak jelas bahwa sepertinya Anna Holtz adalah merupakan tokoh real. Hohoho... padahal tidak. Sutradara dan penulis naskah film ini, telah berhasil memadukan fakta dan fiksi serta menjadikan batas di antara keduanya begitu tipis. Beethoven merupakan tokoh yang nyata, sementara Anna Holtz hanyalah tokoh fiktif. Faktanya, sejarah mencatat bahwa Beethoven memiliki beberapa orang penyalin yang semuanya adalah pria. Besar kemungkinan tokoh Anna diciptakan untuk menjadi penyelamat Beethoven dari keheningan dunianya sekaligus inspirator mahakaryanya serta menegaskan spekulasi mengenai wanita-wanita dalam hidup Beethoven di mana salah satu dari mereka merupakan apa yang dianggap oleh sang komposer sebagai Immortal Beloved, yang sesungguhnya masih menjadi misteri hingga saat ini. [2]

>> Keapikan "Copying Beethoven" disebut-sebut sebagai film yang dipengaruhi oleh kesuksesan film Amadeus (1984), dengan mengambil tema kisah yang serupa, yaitu kisah perjalanan hidup seorang komposer - Wolfgang Amadeus Mozart.[3] Amadeus memenangkan 8 kategori piala Oscar, 32 penghargaan lain dan juga 13 nominasi. [4]
=================================

But most of all, kalau kalian orang yang menganggap musik dan film adalah milik kalian, atau cinta adalah milik kalian, atau ambisi adalah milik kalian, atau... cita-cita, keterasingan, kesepian, kekecewaan, pengkhianatan, kepuasan hingga kemegahan...

Kalian tidak akan pernah salah memilih "Copying Beethoven" sebagai top list tontonan sepanjang masa.

taken from :
[1] http://www.locatetv.com/movie/copying-beethoven/992098
[2] http://gainaur.blog.friendster.com/2007/05/copying-beethoven-2006/
[3] http://clubtroppo.com.au/2007/04/24/copying-beethoven/
[4] http://www.imdb.com/title/tt0086879/