Kamis, 15 April 2010
Srawung Art - Perdana (Panggung Apresiasi Bulanan Seni, Sastra dan Budaya)
Acara dimulai pada pukul 20.00, dibuka oleh permainan perkusi perempuan oleh PSYCO NOISE, diikuti spontanitas sumbangan dari Cak Ugeng berupa pertunjukan atraksi api. Kemudian acara dibuka oleh MC. Dhika dan Icha. Pidato singkat dari Koordinator ESOK oleh Gita Pratama menjadi pengantar bagi pengunjung dan tamu untuk melatarbelakangi dan mengetahui tujuan kegiatan dari Srawung Art diselenggarakan. Gita Pratama menyampaikan harapannya agar acara ini bisa berlanjut terus untuk ke depannya, dan menjadi penghubung juga wadah lintas komunitas budaya dalam menampilkan ekspresi juga mengapresiasinya .
Setelah itu acara dilanjutkan dengan penampilan Musikalisasi Puisi dari siswa SMU Bina Bangsa. (20.27), dan berlangsung kurang lebih 7 menit. Deny Tri A., juga tidak mau kalah untuk memberikan penampilan terbaiknya membacakan puisi (20:35 – 20:45)
Diskusi yang dimoderatori oleh Diana Av.Sasa dari Indonesia Buku dan lima orang pembicara masing-masing adalah Mas Sugeng (penggiat musik dan penggagas Psycho Noise), Ilham J Baday (perupa), Alex Subairi (wakil dari komunitas “Rebo Sore”), Prita HW (penggiat literasi, ketua komunitas literasi Insan Baca) dan Mahwi Air Tawar (penulis sekaligus penggiat literasi asal Sumenep yang berdomisili di Jogjakarta) juga mampu membuka mata dan wacana pengunjung. Diskusi mengambil tajuk Pergerakan Komunitas Budaya dan Literasi ini juga menjadi ajang temu lintas komunitas yang mempunyai bendera kebudayaan untuk dapat saling bekerjasama dan diharapkan dapat saling mengelaborasi karya-karya dan penciptaan kebudayaan dalam skup yang lebih “terbuka” dan tidak menutup diri terhadap kebaruan dan masuknya jenis-jenis budaya baru selain apa yang dikembangkan oleh komunitasnya (20.45)
Mas Sugeng selaku penggagas Psycho Noise dan penggiat musik ingin memberi ruang bagi para individu yang mempunyai minat dalam bidang musik khususnya perkusi untuk bergabung dalam kelompoknya. Sementara Alex Subairi, penggiat komunitas “Rebo Sore” mempunyai harapan kepada para anggotanya etika pulang ke daerah masing akan membentuk komunitas sendiri. Prita H. W. pendiri Taman Baca Masyarakat “TBM” di Rusun Penjaringan ini mengungkapkan ia memulai pergerakannya dari skripsi. Saat ini sendiri ia mengungkapkan ada 15 perpstakaan indipendent di surabaya. Fungsi utama dari Insan Baca, sebagai komunitas literasi yang ia ketuai, adalah saling berbagi, berusaha mendekatkan buku dengan para pembacanya.
Mas Ilham selaku wakil dari seni rupa, ingin agar komunitas ini, membuat wadah dimana wadah itu bukan hanya untuk kalangan pribadi, tetapi untuk masyarakat yang ingin menikmati seni secara terbuka. Ia juga mempunyai mimpi bukan hanya sekedar mimpi, tetapi bisa direalisasikan dengan bekerja. Menjadi seniman itu adalah suatu PILIHAN.
Mahwi Air Tawar juga menyampaikan keprihatinannya dalam menyaksikan fenomena pergerakan komunitas yang hanya menggantungkan keberlangsungan komunitasnya hanya dari orang per orang saja. Anggota hanya bersifat pasif dan menjadi pengekor motor penggerak komunitas nya. Ia juga membidik aktivitas komunitas yang tenggelam dalam aktivitas kegiatan organisasi dan melupakan proses berkarya dan tidak memetik manfaat apapun dari komunitas yang diikuti oleh individu tersebut.
Benang merah masalah utama adalah ruang dan jaringan, dimana tiap komunitas tidak saling mengenal. Ruang untuk berapresiasi juga menjadi kendala. Srawung art diadakan sebagai wadah, dimana tiap komunitas dapat tampil dan mengapresiasikan komunitasnya, dan untuk memperkenalkan antar komunitas.
Beberapa catatan yang dilontarkan ketika sesi tanya jawab, salah satunya dari cak Ugeng yang mempertanyakan, mengapa komunitas seperti Rebo Sore bergerak hanya di kampus dan tidak mencoba “keluar”. Ia juga memberikan masukan kepada komunitas Insan Baca agar mulai mencoba mengajak anak-anak jalanan dalam kampanye Membaca dan menggiatkan membaca. Komunitas Insan Baca menambahkan bahwa saat ini mereka tengah berupaya untuk melakukan dan mulai dikembangkan.
Kirana Kejora, penulis sekaligus penggiat film menyatakan keyakinannya dalam harapan-harapannya, “Narsis adalah modal optimis. Jangan berpikir bahwa anak daerah tidak bisa maju, anak daerah tidak kalah dengan yang ada di Jakarta. Jadikan Surabaya bumi seniman.”
Ribut Wijoto juga menyatakan responnya bahwa ini adalah sebuah terobosan membuat ruang untuk teman yang belajar sastra, musik, teater dan lain-lain. Tantangannya adalah bagaimana wadah ini bisa memunculkan karya yang KAYA, tidak melulu dari SASTRA.
Di Jogja ada komunikasi yang CAIR, di surabaya jarang ada dialog antar lintas komunitas. Padahal diskusi diperlukan untuk memperluas pengetahuan. Srawung art diharapkan bisa menjadi wadah bagi komunitas2 untuk saling sharing.
(selesai sekitar pukul 22.00)
Acara kemudian dilanjutkan dengan performance Kirana Kejora. Ia membacakan puisi berjudul Elang diiringi dengan permainan musik tiup Saluang oleh Nawi (22.00) Dilanjutkan dengan puisi oleh cak Ugeng. Membacakan puisi karya Kirana Kejora nya yang berjudul Masih Tersisa dengan iringan permainan jimbe. (22.10). Acara ditutup oleh band indie, The Defer, sebuah band indie dengan aliran rock (22.15) (dee/nisa)
Sabtu, 06 Maret 2010
Peminat Literasi & Masyarakat : Sebuah kesenjangan orientasi literasi
Pengembangan literasi (kesusastraan) pada tingkat-tingkat daerah tampaknya mulai harus diberdayakan kembali. Penggiat-penggiat sastra saat ini tampaknya harus memulai kerja yang ekstra keras, dalam rangka menciptakan suasana literasi/ kesusastraan yang lebih kondusif, supportif dan mendidik.
Berangkat dari sebuah tagline “"Jika aku menulis buku, kemungkinan tetanggaku, tidak akan membaca. Tapi jika aku mendirikan pondok baca, pastinya tetangga, anak tetangga, warga desa tetangga, orang lewat, bisa mampir dan ikut menikmatinya". Kalimat tagline ini saya kutipkan dari sebuah semboyan milis tetangga “tamanbaca”. Inilah yang coba saya angkat sebagai bentuk penyadaran ataupun kalau bahasa saya “colekan” bagi penggiat-penggiat literasi.
Harga buku yang membumbung, dan tidak sebanding dengan derasnya perkembangan siaran televisi yang semakin marak, menjadikan masyarakat tidak punya alternatif sarana pembelajaran dan hiburan yang suportif, mendidik dan atraktif. Daripada membeli buku yang harganya mahal, lebih baik menonton televisi saja yang gratisan. Sementara sajian televisi saat ini kita perhatikan tidak sedikit juga tayangan-tayangan yang seperti tidak mempunyai filter. Saat ini tayangan-tayangan yang disajikan lebih banyak yang monoton, mengumbar kekerasan, konsumerisme, sensualitas, dan budaya membicarakan permasalahan orang lain (acara-acara gosip)
Kalaupun ada masyarakat yang haus membaca, mereka akan disibukkan dengan pergi kesana-kemari mencari perpustakaan, kemudian diributkan dengan proses kepengurusan kartu keanggotaan, ada pula perpustakaan-perpustakaan yang mewajibkan membayarkan uang dengan sejumlah tertentu bagi para peminat baca untuk sekedar menikmati koleksinya. Beberapa perpustakaan telah digagas, mulai dari perpustakaan keliling dengan menggunakan mobil kap terbuka hingga perpustakaan sepeda. Pepustakaan keliling dengan mobil memang mulai diadakan, namun hal ini hanya sebatas pada kota-kota besar, terhitung di Surabaya terdapat 3-5 mobil operasional perpustakaan mobil keliling. Berbeda dengan kota-kota kecil jarang ada bahkan tidak ada fasilitas semacam ini. Hal yang menjadi catatan bagi perpustakaan mobil keliling, adalah mobil operasional yang digunakan masih berkesan terlalu eksklusif. Memang bagi keluarga awam, hal ini menjanjikan kenyamanan, tapi bagi masyarakat kelas bawah (misalnya, pengamen, anak-anak jalanan, dan sebagainya) ini menimbulkan kejengahan, ada perasaan minder ketika mereka dipersilakan membaca di perpustakaan mobil ini. Kultur “mobil” ditengarai tidak “dekat” dengan kultur keseharian mereka yang bersahaja, dan sederhana. Padahal, justru masyarakat dengan tingkat perekonomian seperti inilah yang patut untuk difasilitasi.
Penggiat literasi tampaknya lebih condong meributkan diri pada proses kreasi, penciptaan hasil karya, proses bikin buku sendiri, proses perang counter hegemoni dan sebagainya. Hemat saya, ini justru tidak dipusingkan oleh masyarakat awam. Kalau ada yang lebih memilih menjadi “penggiat literasi” biasanya akan banyak yang berbicara masalah “Karyamu mana?”. Jarang sekali para penggiat literasi yang menanyakan “Karyamu mana, yang berguna bagi masyarakat?”, padahal bagi masyarakat, ini lah yang paling banyak dibutuhkan.
Untuk itu, saya mengajak para “penggiat literasi” untuk sekedar melongok kepada masyarakat, berkacamata pada kebutuhan mereka, dan menjawab kebutuhan mereka dengan sebuah “karya” yang bermanfaat". Karya yang tidak selalu, berbentuk "buat buku sendiri" , mengesampingkan terlebih dahulu “sedikit saja” hasrat yang ada, atas sebuah perdebatan yang tidak terlalu krusial. Pada dasarnya masyarakat tidak kekurangan bahan membaca, namun masyarakat kekurangan sumber daya dalam menyokong minat bacaannya.
* Penulis, Nisa Ayu Amalia, member ESOK, anggota penjaga gerbang ilmu Perpus Emperan ESOK
Sby, 141208
Refleksi Aksi Solidaritas TOLAK PEMBAKARAN BUKU



Apa yang terbersit di otak saya ketika seorang rekan yang sangat mencintai BUKU layaknya jiwanya dan orang-orang yang dikasihinya, menuliskan kalimat berikut di dinding Facebooknya.
Beri aku 10 pemuda yang membara cintanya pada BUKU, dan aku akan mengguncang mereka para pembakar buku itu!!!! Ada yang mau ikut aksi turun jalan?
Begitu lah yang terpampang di dinding beranda beliau.
Aktivitas saya sebenarnya adalah seorang pegawai honorer salah satu konsultan SDM. Tak ada yang dapat menautkan saya dengan sosok Diana Av. Sasa, Redaktur Pelaksana I:BOKOE, selain kecintaan kami dalam sesuatu yang sama. BUKU.
Layaknya orang jatuh cinta, tentu saja saya iri dan cemburu dengan beliau. Dengan gamblang beliau memberikan perspektif baru memperluas wacana saya mengenai sesuatu yang kami cintai buku, sastra dan pergerakan. Dan, kali ini ajakan beliau terus terang membuat saya tergugah.
Sebelumnya, saya telah mengikuti perkembangan berita atas pembakaran buku yang dilakukan pada saat penyaluran aspirasi oleh beberapa elemen masyarakat.
...Rabo, (2/9/09) Front Anti-Komunis (FAK) berdemonstrasi di depan kantor Jawa Pos. Mereka terdiri dari Paguyuban Keluarga Korban Pemberontakan PKI 1948 Madiun, Centre For Indonesian Communities Studies (CICS), Front Pembela Islam (FPI) Jawa Timur, Front Pemuda Islam Surabaya (FPIS), dan MUI Jawa Timur, Forum Madura Bersatu (Formabes) Jawa Timur, DHD ‘45 Cabang Surabaya, anggota Legiun Veteran Republik Indonesia (LVRI), serta beberapa kelompok lainnya.
Mereka keberatan atas beberapa pernyataan Soemarsono, ketua Pemuda Republik Indonesia (PRI), yang dimuat dalam tulisan bertajuk, Soemarsono; Tokoh Kunci dalam Pertempuran Surabaya. Catatan terkait dengan sejarah dan masa lalu Soemarsono tersebut dimuat bersambung tiga seri di halaman depan Metropolis Jawa Pos, 9-11 Agustus 2009, yang ditulis Chairman Jawa Pos Dahlan Iskan.
Setelah membacakan pernyataan sikap, Arukat, Muhammad Khoiruddin, dan Nazir Zaini (Formabes) beramai-ramai membakar buku testimonial Soemarsono berjudul Revolusi Agustus, Kesaksian Pelaku Sejarah....
Begitulah kurang lebih kronologis berita yang terangkum dari pemberitaan yang saya terima selama ini.
Saya berang sekali ketika turun berita tersebut. Saya telah mengalami sendiri, menjadi korban atas vandalisme, sewaktu saya kecil. Orang yang seharusnya memberi saya panutan justru melarang saya menulis. Bahkan di tahun ke 3 saat saya bersekolah dasar, saya harus mendapati BUKU kesayangan saya DIBAKAR. Buku itu adalah buku harian saya. Maka, seperti menuangkan kembali asam cuka ke luka yang belum kering perasaan saya atas kecintaan pada BUKU dan dunia tulis menulis harus menganga kembali. Apa salah otak saya yang mempunyai pemikiran tersendiri? Salahkah saya yang memilih buku sebagai tempat menuangkan aspirasi dan kegundahan hati. Saya tidak pernah berkonflik dengan kertas, pena dan buku. Mereka adalah teman yang sabar, jujur dan mengerti segala tentang saya. Belajar dari mereka adalah belajar bagaimana membuka wacana, menerima perbedaan-perbedaan dengan kasih dan menghargai. Dan,anda silakan membayangkan bagaimana perihnya ketika karib dan sesuatu yang kita kasihi dimusnahkan, diberangus hidup-hidup di depan mata.
Bagi saya, tak ada hakikat yang mutlak dalam menyokong dan menuju kebenaran yang mendekati kesempurnaan. Namun, hal tersebut akan bisa diraih, bila kita mampu memandang suatu fenomena dari beragam sudut.
Seperti halnya orientasi berikut, ketika sekumpulan orang yang ditutup matanya diminta untuk memberikan deskripsi tentang suatu benda asing. Maka, tentu saja tidak ada jawaban yang sempurna. Fenomena akan utuh kita tangkap, bila kita mampu mengatur jarak dan "membuka mata" kita atas perspektif baru. Jarak dibutuhkan, agar kita dapat memandang sesuatu dengan objektif. Membuka mata adalah agar kita mampu menangkap fenomena secara menyeluruh dan detail. Tanpa perspektif yang menyeluruh kita tidak akan mencapai kebenaran tersebut.
"Membaca" berbagai macam bahan adalah salah satu upaya memperluas wacana dan mengatur jarak terhadap fenomena. Dan itu tidak akan bisa terwujud bila kita hanya melakukan tebang pilih atas informasi yang kita terima.
Maka, bagi saya "Sejarah seharusnya, dikatakan benar bila itu benar, dan dikatakan salah apabila salah". Selamat "MEMBACA" fenomena, dan jangan rusak buku-buku anda.
Nisa Ayu Amalia Elvadiani
(Pecinta Buku dan salah satu Penggagas Perpustakaan Emperan ESOK)