Tampilkan postingan dengan label buku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label buku. Tampilkan semua postingan

Rabu, 04 Agustus 2010

Sang Penanda Catatan Tanah Merah



Gb : saat membacakan puisi "Bara yang Tak Pernah Padam" karya Mawie Ananta Jonie, pada acara Geladak Sastra 6 : Diskusi 3 Buku LEKRA

kalau kau ajariku angkat senjata, aku hanya bisa ambil pena dari kotak kaleng bundar di sudut mejaku. bahkan untuk membelikannya tinta aku harus memasung lidahku pada tiang pancang gantungan. lidahku membiru, bahkan kalau kau mau, berangsur-angsur cairan otakku pun terhisap keluar, membusuk di tanganmu.

tak ada yang tersisa, bahkan hanya sekedar secarik kertas untuk mengganjal salah satu sisi yang timpang di mejaku, jangankan buku, jangankan catatan baru, jangankan penanda peristiwa dulu, jangankan pidato kemenanganku, sungguh benar-benar tak ada yang tersisa

selain topi baret dan lars berbau tiran menginjak pita mesin tik tua ku dan jari tinggal satu mengeja huruf demi huruf nafasku

aku berdiri karena masa lalu yang membentukku, namun aku merdeka untuk menjadi apa saja, pun bukan menjadi ketakutan masa lalu mu...

04082010

Senin, 05 Juli 2010

Rahasia Selma : Jendela cerita dan fenomena kemanusiaan sehari-hari


Judul : Rahasia Selma
No. ISBN : 9789792256567
Penulis : Linda Christanty
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Tanggal terbit : Mei - 2010
Jumlah Halaman : 130
Berat Buku -
Jenis Cover : Soft Cover
Dimensi(L x P) : 135x200mm
Kategori : Cerpen
Bonus -
Text Bahasa : Indonesia



  1. Kemasan


Membaca kumpulan cerita “Rahasia Selma” adalah seperti membaca sebuah cerita tuturan. Saya cukup tergelitik dengan judul buku “Rahasia Selma”. Rahasia Selma sendiri adalah merupakan salah satu judul cerita dalam kumpulan cerita. Entah apa yang mendasari penulis memilih judul Rahasia Selma? Saya sendiri kurang paham. Nyata-nyatanya saya tidak menemukan benang merah antara satu cerita dengan cerita yang lain yang mengaitkan dengan judul buku ini. Ya, Rahasia Selma.


Sama seperti ketika saya mencoba mencari tahu sepasang gambar kaki anak-anak, berkaus kaki hijau bergambar bunga-bunga namun bersandal. Berdasar atas sebuah penelusuran, saya menemukan bahwa ada kemiripan konsep dengan cover sebuah buku berjudul Lolita karangan Vladimir Nabokov. Konsep memajang kaki bersepatu memang tidak asing lagi, bedanya Lolita berkesan lebih menyedihkan dengan tampilan hitam-putih daripada Rahasia Selma yang berwarna lebih ‘ngejreng’ dalam kacamata saya. Cover ini saya katakan sesuai dengan kisah Rahasia Selma, yang menggambarkan rasa keingintahuan seorang gadis bernama Selma akan dunia luar, kemudian ia melakukan perjalanan sembunyi-sembunyi, hal ini dikarenakan rasa kesepian yang tengah dialami. Tapi apakah cover ini merepresentasi isi cerita-cerita lain di dalamnya? Saya rasa tidak.


Berikutnya yang ingin saya kemukakan adalah, adakah sebuah alasan khusus dengan memajang endorser dari buku sebelumnya pada buku ini? Kesemua yang diajukan adalah penyair dan lebih dikenal dalam tulisan puisi-puisinya. Saya jadi mengaitkan apakah ada alasan khusus yang dipakai penerbit atau pun penulis dalam menarik para pembacanya untuk lebih menggiring pembaca puisi menikmati karya ini? Berkaitan hal tersebut saya akan ajukan beberapa paparan di bagian berikutnya mengenai isi.


  1. Isi


Penulis memakai bahasa penuturan penggambaran yang kuat dalam tulisannya. Setidaknya setiap memulai cerita baru atau sub bab baru penulis selalu menuliskan deskipsi gambaran detail suasana, tempat secara detail, namun saya juga menjadi memahami, tak demikian dengan deskripsi waktu.


Ceritanya menggambarkan kisah sederhana, sehari-hari dengan cara yang unik. Pemilihan kata-kata dalam kalimat-kalimatnya pun kaya. Namun entah bagaimana, saya kurang “akrab” dengan cerita-cerita itu. Layaknya cerita harian, cerita-cerita di sana menjadi milik “sendiri”. Sangat aneh rasanya ketika membaca “Pohon Kersen” misalnya saya harus menemukan “kopi robusta” dan “Ham Lam” di tengah jajaran karakter “Mak Sol” atau “Yu Ani”. Atau seperti membaca Rahasia Selma, ketika menemukan karakter Pak Suhana yang muncul dan kemudian muncul lagi nama Wilhelmus. Saya jadi kebingungan menentukan cerita ini mengambil setting di mana?


Nah, kegalauan saya adalah, meski cara penulisannya yang liris, kaya tema dan memiliki jalinan cerita yang kuat, saya selalu tidak paham dengan ending-ending dari tiap ceritanya. Apakah ini berkaitan dengan cerita catatan hati, saya tidak bisa menangkap maksudnya. Butuh pikiran yang tenang untuk paham satu persatu ceritanya, dan pembaca bukan seseorang yang selalu dalam keadaan serius dan penuh fokus saat membaca. Rahasia Selma tampaknya tidak cocok untuk pembaca cepat. Kehilangan satu paragraph saja maka hilanglah jalinan cerita. Berkaitan dengan endorser seperti yang saya kemukakan sebelumnya, hal ini lah yang saya rasa menjadi penyebab mengapa penulis berusaha menarik perhatian pembaca puisi. Cerita yang disuguhkan sarat dengan bahasa symbol yang lekat dengan tema kemanusiaan yang berat, penyajian bahasanya ini lah yang memungkinkan bahwa penikmat puisi atau bahasa syair diharapkan menikmati karya ini.





dimuat di yanahaudy.net

Senin, 10 Mei 2010

Valharald : Lawan...!!!!!

Judul : VALHARALD : Ksatria Talismandala dan Pertempuran di Vincha
Pengarang : Adi Toha
Penerbit : Diva Press
ISBN : 97860295*****
Tebal : 411 Halaman

Sinopsis (1)

VALHARALD adalah sebuah novel fiksi fantasi karya Adi Toha. Berkisah tentang perjalanan dan petualangan 12 Ksatria Talismandala dalam menjalani misi dan takdirnya sebagai ksatria cahaya, menyelamatkan negeri VarchLand dari Kekuatan Kegelapan. Kedua belas Ksatria Talismandala ini merupakan orang-orang yang terpilih dengan keunikan dan karakteristik tersendiri dari beragam suku. Menjadi istimewa dengan jati diri dan latar belakangnya masing-masing.

Dalam perjalanannya 12 Ksatria Talismandala tersebut dibekali oleh sebuah kunci berbentuk segitiga yang berfungsi untuk membuka senjata rahasia dan peralatan perang yang telah lama tersimpan di tempat yang juga terahasia. Disamping senjata dan peralatan rahasia tersebut, tersimpan pula Mahkota Liafala, mahkota tertinggi negeri Varchland.

Barangkali itulah yang ingin disampaikan dalam kisah Valharald. Dua belas ksatria bisa jadi adalah diri kita yang tengah terpanggil untuk melakukan sebuah perubahan besar dalam hidup, namun kita selalu saja dilanda pertanyaan-pertanyaan: benarkah saya harus berubah? Beranikah kita untuk melakukan sesuatu yang besar dalam hidup kita?

Melawan atau Mati!


Mutiara Kecil itu…

Kejadian demi kejadian dalam hidup membawa kita kepada satu titik. Jika kita melihat ke belakang dan menyadari sepenuhnya bahwa tibanya kita di satu titik itu adalah sebuah keharusan. Kita akan semakin yakin untuk melangkah ke titik-titik selanjutnya. Meski kita tidak akan pernah tahu apa yang akan kita temui di titik-titik itu. (2)

Kau tidak bisa menjanjikan apa yang belum tentu kau dapatkan. Jangan pernah menjanjikan itu. Kadang takdir tidak berjalan sesuai dengan harapan kita. Apa yang telah kita harapkan, apa yang kita janjikan, apa yang telah kita nanti-nantikan semuanya bisa hilang dan musnah dalam sekejap. (3)

Untuk apa kita takut pada sesuatu yang belum jelas keberadaannya? Kalau pun mereka memang ada, belum tentu mereka akan menyerang kita. Siapa tahu justru mereka akan membantu kita untuk menyelesaikan ujian nanti... (Dialog Fionn). (4)

Jangan pernah menyesali apa yang telah dilenyapkan oleh waktu, ia tidak akan pernah kembali, ia tidak akan pernah kita jumpai lagi karena apa yang telah dilenyapkan oleh waktu sungguh telah berada pada sebuah tempat yang sangat jauh.... (5)


Begitulah beberapa penggalan kata-kata filosofis yang menarik perhatian saya dan bahkan saya dokumentasikan sendiri. Tak banyak namun cukup. Saya katakan beginilah seharusnya sebuah cerita dikisahkan. Ketika membaca Valharald, saya menjadi teringat masa-masa ketika paman saya memberikan dongeng sebelum tidur. Atau mungkin seperti inilah tepatnya ketika seorang penutur di masa itu menceritakan dongeng kepada anak-anak.

Valharald tidak hanya menuturkan cerita atau sekedar curahan hati. Ketika seorang pencerita asyik pada dunianya terkadang ia terjebak pada dunia eksklusifnya, membentengi diri pada pembacanya, tidak mempunyai kontak dengan penikmatnya. Penikmat sering kali dibuat bingung dengan kelebatan-kelebatan peristiwa atau gaya tuturan yang terlalu “aku”. Valharald berusaha menyentuh saya ketika penulis menyisipkan kata-kata atau pesan-pesan filosofisnya secara halus. Bahkan, saya merasa sedang berdialog dengan tokoh tersebut. Menemukan kata-kata filosofis seperti yang saya coba bocorkan di atas, menjadi sebuah “harta karun” kecil yang membuat saya keasyikan dalam dunia Valharald, dan tidak merasa digurui.

Kata-kata filosofis itulah yang saya akui menjadi semacam “reward” kecil ketika saya “dibujuk” tanpa sadar oleh penulis untuk semakin menyelami petualangan demi petualangan, cerita demi cerita, bahkan pertarungan demi pertarungan dari tokohnya. Saya bahkan tidak segan mencatat ulang, mendokumentasikan kata-kata filosofis itu. Novel ini tidak hanya menjadi semacam penghibur namun juga memancing saya untuk membaca secara aktif, terlibat secara emosi maupun retrospeksi dengan penggalan-penggalan kata-kata filosofis, yang entah sadar atau tidak terselip di banyak bagian dialog-dialog tokoh-tokohnya. Saya malah mempunyai pemikiran, apakah seperti demikian pemikiran-pemikiran filosofis yang ada dalam benak penulis?

Membaca-i “Manusia Fiktif” itu…

Di satu sisi saya sangat menikmati “harta karun” itu, di satu sisi lain saya harus terheran-heran dengan kekurangdetailan penulis dalam menangkap gejala-gejala lumrah “manusia”. Satu kejanggalan yang saya tangkap diantaranya adalah ketika penulis menuturkan persahabatan tiga orang pemuda Fionn, Urias dan Cymrodor dengan kaku. Tak ada sekelumit pun percakapan me“manusia” yang nampak, tak ada hal-hal konyol yang tesembul, tak ada keakraban atau kelucuan-kelucuan akrab khas gambaran sebuah persahabatan yang terjalin sangat lama, bahkan semenjak lahir. Tak ada kutipan-kutipan khas “boys talk” yang bisa saya temui.

Keganjilan lain adalah, usia penokohan itu sangat beragam, mulai dari yang masih paruh baya, hingga yang sudah setengah abad, namun sangat aneh apabila gaya bicara mereka juga harus meniru satu sudut pandang saja. Sangat kaku dan tidak menunjukkan pembeda sesuai dengan usia yang dituturkan oleh penulis. Begitu juga latar belakang kesukuan tokohnya, penulis masih belum memikirkan bagaimana meng”karakter”kan tokohnya, padahal ke-12 Ksatria Talismandala merupakan ksatria terpilih dari berbagai suku.

“Bungkus” Dongeng itu…

Saya masih ingat ketika mendapat cetakan pertama novel ini, mata saya langsung tertuju pada sebuah label merah yang tertera di bagian sampul depan cover ini. “Novel yang akam membuatmu GEMETAR”, begitulah yang ter-emboss di cover depan Valharald. Saya rasa emboss ini malah mengebiri konten dari novel ini. Tak ada satu isi pun yang membuat pembaca GEMETAR. Tentu lain soal apabila novel ini merupakan novel horror, saya rasa emboss GEMETAR masih cukup layak. Alih-alih kata GEMETAR, saya lebih menyarankan editor untuk mengalami edisi pembacaan saya dan mengganti kata GEMETAR dengan kata-kata lain. Tergetar, misalnya. Kata “tergetar” menurut saya lebih mewakili karena bisa menggambarkan pembaca yang akan dibuat tergetar secara pikir, emosi dan perbuatan dalam melakukan perlawanan atas ujian atau perbaikan-perbaikan perilaku seperti yang dituturkan sang penulis. Kalau memungkinkan lebih baik kalau emboss itu tak usah ada sama sekali saja, atau dalam bahasa sederhananya ditiadakan.

Saya juga kecewa ketika cover tersebut tidak memiliki orisinalitas dari segi desain cover. Setiap mata pasti langsung mengingat bahwa desain cover Valharald secara jelas mengambil dari gambar film epik-fantasi luar negeri yang telah terlebih dahulu tayang beberapa tahun lalu. Menggabung-gabungkan beberapa film secara “montage”, kemudian diedit sedemikian rupa, dan diberi judul “Valharald”.

Sinopsis di bagian belakang juga saya anggap kurang menarik perhatian saya, terlalu dilebih-lebihkan dan menurut saya hanya sekedar “lips marketing” yang kurang cerdas membaca konten Valharald sesungguhnya. Suatu saat saya coba mengintip deskripsi yang dibuat sendiri oleh penulisnya dalam sebuah grup jejaring pertemanan, dan saya akui deskripsi sinopsis yang diberikan jauh lebih membuat saya tertarik, dibanding yang diberikan di novelnya.

Kekecewaan saya pada kemasan Valharald rupanya bisa menjadi catatan tersendiri bagi editor, disamping beberapa kesalahan-kesalahan penulisan kata yang kerap kali saya temukan di sana-sini. Apakah Valharald terburu-buru dalam proses penyuntingan? Bagi saya, hal itu sangat disayangkan bagi bayi novel cerdas dan boleh dikatakan inspiratif namun terlahir secara prematur oleh penerbitnya.

Valharald bagi saya…

Novel ini sedikit banyak memiliki ikatan emosional dengan saya di sana-sini. Di satu saat saya bahkan mengakui merasa dekat dengan Gwyneira yang menyukai kupu-kupu, dan menyelami dialog-dialog filosofis nya dengan Fionn. Di saat yang lain, saya harus dibuat terharu dengan Eira yang dalam beberapa hal mempunyai pengalaman yang bagi saya mendekati pengalaman hidup saya. Satu kata, menyentuh, namun bukan sebagai sebuah tulisan yang berisi tentang kecengengan yang mengharu-biru. Valharald bercerita tentang ketegaran dan perlawanan atas ujian hidup. Seperti yang termaktub dalam salah satu kutipannya.

Harga dari sebuah perjuangan adalah ujian. Yang tak sanggup bertahan dan kalah akan tersingkir. Yang sanggup bertahan dan memenangkan perjuangan akan tetap hidup. Bukankah kehidupan adalah serangkaian pertarungan? (6)

Begitulah Valharald yang ditutup dengan sebuah bab pertempuran dengan ending yang menggantung dan menjanjikan kelanjutan pengisahan perlawanan berikutnya. Apakah Valharald menjadi korban kutipannya sendiri? Menjadi kisah yang akan dengan mudah “dilenyapkan oleh waktu” atau tidak, yang pasti saya tidak sabar menanti kelanjutan dari novel ini.


Referensi :

1. Sinopsis sebagian diambil dari info grup Facebook Valharald, http://www.facebook.com/?sk=messages&tid=413848564461#!/group.php?gid=120690074616363&ref=ts

2. Valharald, hal. 135

3. Valharald, hal. 214

4. Valharald, hal. 52

5. Valharald, hal.10

6. Valharald, hal.129

Sabtu, 06 Maret 2010

Peminat Literasi & Masyarakat : Sebuah kesenjangan orientasi literasi

Pengembangan literasi (kesusastraan) pada tingkat-tingkat daerah tampaknya mulai harus diberdayakan kembali. Penggiat-penggiat sastra saat ini tampaknya harus memulai kerja yang ekstra keras, dalam rangka menciptakan suasana literasi/ kesusastraan yang lebih kondusif, supportif dan mendidik.


Berangkat dari sebuah tagline “"Jika aku menulis buku, kemungkinan tetanggaku, tidak akan membaca. Tapi jika aku mendirikan pondok baca, pastinya tetangga, anak tetangga, warga desa tetangga, orang lewat, bisa mampir dan ikut menikmatinya". Kalimat tagline ini saya kutipkan dari sebuah semboyan milis tetangga “tamanbaca”. Inilah yang coba saya angkat sebagai bentuk penyadaran ataupun kalau bahasa saya “colekan” bagi penggiat-penggiat literasi.


Harga buku yang membumbung, dan tidak sebanding dengan derasnya perkembangan siaran televisi yang semakin marak, menjadikan masyarakat tidak punya alternatif sarana pembelajaran dan hiburan yang suportif, mendidik dan atraktif. Daripada membeli buku yang harganya mahal, lebih baik menonton televisi saja yang gratisan. Sementara sajian televisi saat ini kita perhatikan tidak sedikit juga tayangan-tayangan yang seperti tidak mempunyai filter. Saat ini tayangan-tayangan yang disajikan lebih banyak yang monoton, mengumbar kekerasan, konsumerisme, sensualitas, dan budaya membicarakan permasalahan orang lain (acara-acara gosip)


Kalaupun ada masyarakat yang haus membaca, mereka akan disibukkan dengan pergi kesana-kemari mencari perpustakaan, kemudian diributkan dengan proses kepengurusan kartu keanggotaan, ada pula perpustakaan-perpustakaan yang mewajibkan membayarkan uang dengan sejumlah tertentu bagi para peminat baca untuk sekedar menikmati koleksinya. Beberapa perpustakaan telah digagas, mulai dari perpustakaan keliling dengan menggunakan mobil kap terbuka hingga perpustakaan sepeda. Pepustakaan keliling dengan mobil memang mulai diadakan, namun hal ini hanya sebatas pada kota-kota besar, terhitung di Surabaya terdapat 3-5 mobil operasional perpustakaan mobil keliling. Berbeda dengan kota-kota kecil jarang ada bahkan tidak ada fasilitas semacam ini. Hal yang menjadi catatan bagi perpustakaan mobil keliling, adalah mobil operasional yang digunakan masih berkesan terlalu eksklusif. Memang bagi keluarga awam, hal ini menjanjikan kenyamanan, tapi bagi masyarakat kelas bawah (misalnya, pengamen, anak-anak jalanan, dan sebagainya) ini menimbulkan kejengahan, ada perasaan minder ketika mereka dipersilakan membaca di perpustakaan mobil ini. Kultur “mobil” ditengarai tidak “dekat” dengan kultur keseharian mereka yang bersahaja, dan sederhana. Padahal, justru masyarakat dengan tingkat perekonomian seperti inilah yang patut untuk difasilitasi.


Penggiat literasi tampaknya lebih condong meributkan diri pada proses kreasi, penciptaan hasil karya, proses bikin buku sendiri, proses perang counter hegemoni dan sebagainya. Hemat saya, ini justru tidak dipusingkan oleh masyarakat awam. Kalau ada yang lebih memilih menjadi “penggiat literasi” biasanya akan banyak yang berbicara masalah “Karyamu mana?”. Jarang sekali para penggiat literasi yang menanyakan “Karyamu mana, yang berguna bagi masyarakat?”, padahal bagi masyarakat, ini lah yang paling banyak dibutuhkan.


Untuk itu, saya mengajak para “penggiat literasi” untuk sekedar melongok kepada masyarakat, berkacamata pada kebutuhan mereka, dan menjawab kebutuhan mereka dengan sebuah “karya” yang bermanfaat". Karya yang tidak selalu, berbentuk "buat buku sendiri" , mengesampingkan terlebih dahulu “sedikit saja” hasrat yang ada, atas sebuah perdebatan yang tidak terlalu krusial. Pada dasarnya masyarakat tidak kekurangan bahan membaca, namun masyarakat kekurangan sumber daya dalam menyokong minat bacaannya.



* Penulis, Nisa Ayu Amalia, member ESOK, anggota penjaga gerbang ilmu Perpus Emperan ESOK


Sby, 141208

Refleksi Aksi Solidaritas TOLAK PEMBAKARAN BUKU






Apa yang terbersit di otak saya ketika seorang rekan yang sangat mencintai BUKU layaknya jiwanya dan orang-orang yang dikasihinya, menuliskan kalimat berikut di dinding Facebooknya.

Beri aku 10 pemuda yang membara cintanya pada BUKU, dan aku akan mengguncang mereka para pembakar buku itu!!!! Ada yang mau ikut aksi turun jalan?

Begitu lah yang terpampang di dinding beranda beliau.

Aktivitas saya sebenarnya adalah seorang pegawai honorer salah satu konsultan SDM. Tak ada yang dapat menautkan saya dengan sosok Diana Av. Sasa, Redaktur Pelaksana I:BOKOE, selain kecintaan kami dalam sesuatu yang sama. BUKU.

Layaknya orang jatuh cinta, tentu saja saya iri dan cemburu dengan beliau. Dengan gamblang beliau memberikan perspektif baru memperluas wacana saya mengenai sesuatu yang kami cintai buku, sastra dan pergerakan. Dan, kali ini ajakan beliau terus terang membuat saya tergugah.

Sebelumnya, saya telah mengikuti perkembangan berita atas pembakaran buku yang dilakukan pada saat penyaluran aspirasi oleh beberapa elemen masyarakat.

...Rabo, (2/9/09) Front Anti-Komunis (FAK) berdemonstrasi di depan kantor Jawa Pos. Mereka terdiri dari Paguyuban Keluarga Korban Pemberontakan PKI 1948 Madiun, Centre For Indonesian Communities Studies (CICS), Front Pembela Islam (FPI) Jawa Timur, Front Pemuda Islam Surabaya (FPIS), dan MUI Jawa Timur, Forum Madura Bersatu (Formabes) Jawa Timur, DHD ‘45 Cabang Surabaya, anggota Legiun Veteran Republik Indonesia (LVRI), serta beberapa kelompok lainnya.

Mereka keberatan atas beberapa pernyataan Soemarsono, ketua Pemuda Republik Indonesia (PRI), yang dimuat dalam tulisan bertajuk, Soemarsono; Tokoh Kunci dalam Pertempuran Surabaya. Catatan terkait dengan sejarah dan masa lalu Soemarsono tersebut dimuat bersambung tiga seri di halaman depan Metropolis Jawa Pos, 9-11 Agustus 2009, yang ditulis Chairman Jawa Pos Dahlan Iskan.

Setelah membacakan pernyataan sikap, Arukat, Muhammad Khoiruddin, dan Nazir Zaini (Formabes) beramai-ramai membakar buku testimonial Soemarsono berjudul Revolusi Agustus, Kesaksian Pelaku Sejarah....

Begitulah kurang lebih kronologis berita yang terangkum dari pemberitaan yang saya terima selama ini.

Saya berang sekali ketika turun berita tersebut. Saya telah mengalami sendiri, menjadi korban atas vandalisme, sewaktu saya kecil. Orang yang seharusnya memberi saya panutan justru melarang saya menulis. Bahkan di tahun ke 3 saat saya bersekolah dasar, saya harus mendapati BUKU kesayangan saya DIBAKAR. Buku itu adalah buku harian saya. Maka, seperti menuangkan kembali asam cuka ke luka yang belum kering perasaan saya atas kecintaan pada BUKU dan dunia tulis menulis harus menganga kembali. Apa salah otak saya yang mempunyai pemikiran tersendiri? Salahkah saya yang memilih buku sebagai tempat menuangkan aspirasi dan kegundahan hati. Saya tidak pernah berkonflik dengan kertas, pena dan buku. Mereka adalah teman yang sabar, jujur dan mengerti segala tentang saya. Belajar dari mereka adalah belajar bagaimana membuka wacana, menerima perbedaan-perbedaan dengan kasih dan menghargai. Dan,anda silakan membayangkan bagaimana perihnya ketika karib dan sesuatu yang kita kasihi dimusnahkan, diberangus hidup-hidup di depan mata.

Bagi saya, tak ada hakikat yang mutlak dalam menyokong dan menuju kebenaran yang mendekati kesempurnaan. Namun, hal tersebut akan bisa diraih, bila kita mampu memandang suatu fenomena dari beragam sudut.

Seperti halnya orientasi berikut, ketika sekumpulan orang yang ditutup matanya diminta untuk memberikan deskripsi tentang suatu benda asing. Maka, tentu saja tidak ada jawaban yang sempurna. Fenomena akan utuh kita tangkap, bila kita mampu mengatur jarak dan "membuka mata" kita atas perspektif baru. Jarak dibutuhkan, agar kita dapat memandang sesuatu dengan objektif. Membuka mata adalah agar kita mampu menangkap fenomena secara menyeluruh dan detail. Tanpa perspektif yang menyeluruh kita tidak akan mencapai kebenaran tersebut.

"Membaca" berbagai macam bahan adalah salah satu upaya memperluas wacana dan mengatur jarak terhadap fenomena. Dan itu tidak akan bisa terwujud bila kita hanya melakukan tebang pilih atas informasi yang kita terima.

Maka, bagi saya "Sejarah seharusnya, dikatakan benar bila itu benar, dan dikatakan salah apabila salah". Selamat "MEMBACA" fenomena, dan jangan rusak buku-buku anda.


Nisa Ayu Amalia Elvadiani
(Pecinta Buku dan salah satu Penggagas Perpustakaan Emperan ESOK)

Jumat, 05 Maret 2010

Saya dan Dewan Pembaca Indonesia Buku

Postingan berikut adalah postingan kegiatan saya yang diselenggarakan dan dirangkum oleh Komunitas Indonesia Buku, saat itu saya mendapat kehormatan untuk mencoba menjadi Dewan Pembaca, tim pembedah, dan mendiskusikan sebuah buku dalam periode yang telah ditentukan. Artikel ini telah diarsipkan sebelumnya pada situs Indonesia Buku dan di sini

LASMI: TANGGAPAN DEWAN PEMBACA

Diposting oleh Diana AV on Feb 20th, 2010 di topik Sidang Pembaca. Anda dapat mengikuti diskusi pada berita ini melalui RSS 2.0. Anda bisa juga meninggalkan komentar dan trackback


“Sebuah fragmen dalam sejarah Indonesia yang ditulis dengan sangat intens, deskriptif, dan tidak memihak,” tulis Noorca M. Sardi di sampul depan novel Lasmi.


Rama Prabu dari tanah Parahyangan sontak menghentak dan berseru: “Komentar itu hanya penghias sampul. Lipstick saja. Kontras sekali dengan isi dan kesimpulan yang ditulis di sampul belakang. Jelas sekali sinopsis itu tidak berimbang dan memihak.”


Prabu mengurai, “Pengakuan penyesalan Lasmi karena beliau menjadi aktivis (ketua Gerwani desa) menjadi sebuah kontradiksi dengan sifat Lasmi di awal cerita. Lihat kesaksiannya ‘…aku tak pernah menyangka sama sekali bahwa menjadi bagian dari Gerwani kemudian bisa dikategorikan sebagai dosa sosial. Andaikan aku tahu Sut, tentu aku tak ingin terlibat. Andaikan aku bisa meramalkannya Sut, aku tak ingin mengambil risiko sebesar itu. Sungguh, engkau pun tahu, aku menyukai kegiatan yang menyangkut masyarakat jadi lebih pintar dan mandiri, namun aku bukan orang yang berani mempertaruhkan nyawa anak kita…’”


“Alasan meninggalnya Gong inilah yang menjadikan Lasmi terpuruk secara ideologis. Tapi penerbit telah salah menginterpretasikan keterpurukan idiologis dan psikologis Lasmi dengan mengatakan bahwa dia terjerumus semangat zaman, menjadi tokoh organisasi perempuan Gerwani dan mengatakan bahwa Gerwani, organisasi kaum perempuan yang ikut terlibat dalam Gerakan 30 September 1965. Sejauh manakah kayakinan itu?”


Keresahan Prabu mengenai latar sejarah ini diamini Diana Sasa, yang sedari awal mengawal jalannya sidang. Kata penulis dari Surabaya ini: “Setahu saya, aktivis Gerwani adalah kader-kader terpilih. Mereka yang tertangkap, tersiksa, dan terbuang nyaris di sepanjang sisa hidupnya pun, tak pernah saya dengar menyesali diri telah menjadi bagian dari Gerwani. Mereka adalah kader ideologis yang militan.”


Untuk menguatkan pendapat itu Sasa coba menyurungkan data dari tiga orang periset Gerwani. Saskia E Wieringa (Penghancuran Gerakan Perempuan dan Kuntilanak Wangi), Fransisca Ria Susanti (Kembang-kembang Genjer), dan Hikmah Diniah (Gerwani Bukan PKI). Dari ketiganya tak ada kesimpulan bahwa gelombang besar aktivis utama Gerwani menyesal telah bergabung.


Menurut jawara blog resensi, Nur Mursidi, dalam novel ini, sejarah peristiwa tragis 1965 memang hanya dijadikan tempelan, sehingga nyaris tak memberikan aroma baru kecuali keberadaan tokoh dengan pernik-pernik permasalahan dan setting cerita (di sebuah desa di Malang). Padahal, novel sejarah sebenarnya bisa dijadikan sebuah rekonstruksi. Tapi, dalam novel ini hampir tak ada fakta baru yang disuguhkan oleh pengarang. PKI tetap sebagai tertuduh dan Lasmi tidak lebih sebagai korban.


“Saya menyayangkan keputusan penulis membawa isu sentral rekonsiliasi nasional ke ranah fiksi dengan proporsi lebih banyak unsur sejarah dan idealogis dibanding unsur cerita. Lasmi menjadi seperti ‘kue lemper’ yang enak dengan kesederhanaannya, namun didandani plot historis, kultural yang penuh dan kurang pengendapan. Saya merasa membaca protes sosial di masa kini, diteriakkan perempuan aktivis masa kini dibanding novel tentang aktivis Jawa, dari sudut pandang suaminya. Singkatnya, saya kebingungan apakah membaca esei dengan potongan data mentah, atau novel tapi minim konflik manusia di masa itu? Coba simak dialog hal. 72, kata ‘…Oke ya, Pak?’ saat menjadi pembicara masyarakat tani masa itu, saya rasa sungguh janggal,” urai si pemilik suara merdu, Nisa Diani.


“Riset adalah kelemahan mendasar dari novel ini. Sangat lemah sekali. Bertaburnya kata ‘konon’ dan ‘kabarnya’ menjadikan novel ini semacam novel sejarah konon. Katanya dan katanya. Misal, ia tak dapat menjelaskan mengapa orang Jawa tak mengenal nama belakang atau nama keluarga. Juga alasan apa orang Jawa meletakkan bendera putih di tonggak atap rumah ketika mendirikan rumah. Di sini, ia bersembunyi di balik kata entah, konon, kabarnya, mungkin, yang menurut saya membuatnya kerdil,” tandas Sasa.


“Kekuatan sebuah novel memang terletak pada kekuatan narasi,” lanjut Mursidi. “Tapi dalam kepenulisan novel, dikenal sebuah penulisan dengan cara menggambarkan, bukan menceritakan. Pada aras inilah, Nusya Kuswantin kerap berlaku menceritakan dan lemah dalam penggambaran. Tak salah, novel ini pun serasa kering dan mirip catatan diary Sutikno (tokoh ‘aku’) untuk mengenang keberadaan Lasmi, istrinya yang mati dieksekusi karena menjadi korban. Capaian estetis yang dielaborasi pengarang pun ‘tidak mendedahkan teknik baru’. Maka, cerita pun berjalan dengan datar, tidak berpilin, dan njelimet. Bahkan kering dialog. Padahal, keberadaan dialog bisa membangun kekuatan sebuah alur.”


Segendang dengan Mursidi, Rama Prabu mencatat bahwa memang selain novel ini sangat minim dialog, penokohan Sutikno (Tikno) dan Lasmi pada beberapa dialog di awal bab tidak konsisten dalam menggunakan istilah dan kelugasan penggunaan bahasa. Penempatan istilah panggilan untuk istri, ibu mertua dan bapak mertua masih disamakan dengan sebutan yang sama seperti pada orang lain. Padahal dihayati atau tidak, aku di sini telah menjadi bagian yang satu dalam ikatan keluarga sebagai tokoh yang bercerita. Beberapa istilah bahasa daerah (Jawa) banyak yang tanpa catatan kaki yang bisa dipastikan akan menyulitkan pembaca di luar kultur dan penguasaan bahasa Jawa.


Hernadi Tanzil, resensor dari sebuah pabrik kertas di Bandung, juga menyayangkan kurang tereksplorasinya karakter Lasmi sebagai tokoh sentral. Karena dituturkan melalui sudut pandang suaminya, otomatis pembaca tak banyak mengetahui bagaimana konflik batin yang dirasakan Lasmi selama masa-masa perburuan terhadap dirinya. Hal ini hanya terungkap melalui surat panjang Lasmi untuk suaminya. Walau telah tewakili oleh surat tersebut tentunya akan lebih menarik jika di sekujur novelnya ini pembaca akan disuguhkan konflik batin yang dialami Lasmi terutama saat masa-masa perburuan terhadap dirinya.


“Saya juga merasakan kesan bahwa penulis kurang sabar dalam mengembangkan kisah Lasmi ini. Ada beberapa hal yang sebetulnya bisa dikembangkan, misalnya kisah pelariannya yang nampak kurang tereksplorasi dengan baik. Semua terjadi selewat-selewat saja padahal jika hal ini dikembangkan pasti akan lebih menarik lagi,” lanjut Tanzil.


Soal alur pelarian ini, Rama Prabu sependapat dengan Tanzil. “Pembaca tidak dibawa merasakan adegan pada kondisi tahun 1965. Penulis mungkin lupa bahwa masih banyak yang dapat dikembangkan dari tulisan ini sehingga pembaca benar-benar merasakan pelarian, perburuan Lasmi dan Tikno sang suami yang akhirnya gila itu menjadi lebih mencekam. Bisa saja suatu ketika Lasmi harus melakukan pelarian yang tak bisa terbayangkan oleh pembaca. Perhatikan saja hampir tak ada adegan kerjar-kejaran dan sembunyi yang mengendap senyap di semua jalur perburuan pelarian Lasmi, yang ada hanya pindah-pindah ‘ngungsi’ dari satu tempat kerabat ke kerabat lainnya.”


Dan di tengah novel, semua anggota Dewan Pembaca dibuat terkejut dengan munculnya transkrip pidato Bung Karno. Transkrip itu menghabiskan berlembar-lembar halaman dalam novel ini. Menurut Tanzil, “Hal ini bisa jadi bumerang, di satu pihak mungkin ada orang yang suka, namun di lain pihak bagian ini bisa jadi membosankan karena seolah terlepas dari alur kisah yang sedang dibangun.”


Dengan manis, Nisa mencoba memberi permakluman, “Tampaknya latar belakang penulis mempengaruhi cara berceritanya. Latar belakang penulis yg aktivis, jurnalis mungkin terlanjur terbiasa menulis dengan struktur dan gaya non fiksi yang rigid. Penulis sepertinya gamang ketika memasuki dunia fiksi sekaligus membahasakan data non fiksi (sejarah) dalam tataran kehidupan sehari-hari di masa itu.”


“Meski demikian, novel ini tetap tidak bisa dikatakan sebagai sebuah novel yang gagal atau tidak berhasil,” tutur Mursidi. “Pengarang berhasil membangun karakter Lasmi dengan kuat. Pada akhir kisah bahkan pengarang meneguhkan bahwa pilihan Lasmi menjalani eksekusi itu sebagai bentuk tanggung jawab sekaligus protes secara masif –menggugah orang untuk memikirkan tragedi pembantaian massal yang terjadi di negeri ini. Tidak salah, kalau pengorbanan Lasmi itu sebagai bentuk anti-kekerasan. Selain itu, dalam hubungan antara suami dan istri dalam rumah tangga, novel ini terasa kuat menggelorakan emasipasi terhadap wanita –persamaan derajat.”


Rama Prabu setuju novel fiksi historis ini selayaknya dapat dijadikan bahan pengingat bahwa pasca tragedi 30 September itu banyak nyawa yang hilang dalam pembantaian masal, ada banyak keluarga yang tercerai-berai, ada banyak silsilah yang tercerabut dari jalur kemanusiaan. Kini, kita hanya bisa mewartakan bahwa hal demikian bisa saja terjadi disaat ini dan masa depan ketika kita tak bisa mengharga nilai perbedaan dan kemanusiaan! Jalur keadaban manusia hanya ada di tangan manusia, dan kita adalah manusianya!


Demikian pula Tanzil, ia setuju bahwa dalam novel ini penulis berhasil menguggah kesadaran pembacanya untuk memaknai peristiwa pembantaian di tahun 65 dalam perspektif kemanusiaan.


Andreas, aktivis Paris Van Java yang sedari awal tak banyak bicara akhirnya pun menimpali. Tulisnya: “Novel ini adalah kesaksian semangat zaman tentang retorika penguasa, masa silam, mimpi buruk, perjuangan yang gigih, harapan klise dan pilihan yang penuh penyesalan yang dengan cepat menjerat dan memerangkap kita dengan telak. Kekuatan naratif dalam melodrama novel ini secara perlahan-lahan namun pasti, berhasil menyeret kita pada rahasia hitam sejarah Gerakan Wanita Indonesia yang lama terbungkam. Dengan telak menawarkan sejumput keberpihakan kepada dua pihak yang sedang bertarung demi suatu kemenangan kecil, tapi menghasilkan kekalahan yang sama-sama besar.”


Lasmi, lanjut Andreas, adalah novel realis yang nyaris surealis. Ada kebahagian yang aneh dalam penderitaannya, sekaligus penderitaan yang ganjil bahkan dalam kegembirannya. Kisah yang sangat pedas, mengambang dan gelisah tentang bagaimana menghargai sebuah pilihan. Ada tetirah yang indah sekaligus mimpi buruk dalam perjuangan Lasmi. Ada darah dan airmata yang subtil. (DS)


(Elle Eleanor) Thriller Tipikal : Sebuah kegagalan pembaruan plot


Penulis: Zeventina OB, Ferry Herlambang Zanzad (Pseudonim : Zev Zanzad)
Terbit : Juni 2009
Penerbit: Kakilangit Kencana
ISBN: 9786028556xxx
Ukuran: 12,5 x 20
Cover: SC
Halaman: 455 /
Berat Buku: 450 gram

Berapa persen dari anda yang pernah berlibur? Utamanya ke villa? Berhati-hatilah karena tampaknya villa bisa menjadi mimpi buruk anda. Bahkan dalam pembicaraan yang ekstrem, villa bisa menjadi tempat anda menjemput maut. Semoga tidak ada pengusaha atau investor villa yang membaca tulisan saya hehehehe… ^^

Sudah banyak sekali sineas-sineas asing dan dalam negeri ataupun penulis-penulis cerita thriller yang membidik lokasi asing nan misterius yang dikunjungi sebagai setting dalam cerita thriller mereka. Setting seperti rumah kosong, villa angker yang jauh dari keramaian ataupun tempat-tempat rekreasi asing, sudah terlalu sering diceritakan. Kemudian tokoh-tokoh tersebut terjebak dalam urban-legend yang diyakini keberadaannya pada lokasi tersebut. Sebut saja beberapa judul film berikut yang memanfaatkan setting lokasi-lokasi tempat-tempat misterius Kuntilanak, Donkey Punch, I Know What You Did Last Summer, Quarantine, Farm House, The Strangers, Suster Ngesot, Suster N, Lawangsewu, House of Wax, Captivity, Turistas go home, KM 14, The Other, The Ghost of Mae Nak dan masih banyak lagi daftarnya.

Rata-rata alur cerita tersebut berjalan dengan tema cerita demikian, sekelompok pemuda sukses, nan cantik dan rupawan, kaya sedang melakukan perjalanan liburan, memilih sebuah villa. Tempat yang wajar bagi mereka sehubungan dengan kekayaan yang mereka miliki. Mereka berniat bersenang-senang melepas penat. Namun apa yang ditemukan disana, ternyata sebuah misteri peristiwa traumatik masa lalu, kegilaan-kegilaan yang tak terungkap dan dendam-dendam terselubung yang menaungi para penghuni dan pengelola villa tersebut.

Namun, jika anda sudah terlanjur menginap di rumah besar itu, jangan khawatir, ada cara ampuh agar anda bisa selamat melewati teror demi teror.

Pertama, jadilah yang paling berani dan pimpinlah kelompok anda dalam menghadapi situasi-situasi sulit. Jangan bertindak tanggung-tanggung atau setengah-setengah, karena anda pasti tidak akan selamat.

Kedua, jika anda tidak bisa menjadi orang pertama dalam kelompok anda, jadilah orang kedua yang selalu bisa diandalkan oleh orang pertama. anda pasti akan selamat.

Ketiga, jadilah orang yang paling tidak penting, anda bisa memilih menjadi orang yang paling penakut, atau menjadi orang yang paling lucu. atau menjadi orang yang paling malas. Pokoknya jadilah orang yang paling tidak melakukan apa-apa, jangan sok berani, jangan sok bijak, cukup diam dan selalu mengiyakan perkataan orang pertama dalam kelompok anda, atau kalau ada apa-apa selalu lah bersama dengan orang yang paling berani, anda pasti akan selamat.

Kalau anda menemui jalan atau rute baru jangan ambil resiko, kembali saja ke ruangan yang menurut anda paling anda ketahui, jangan bertindak bodoh untuk menelusur mencari jalan baru.

Tidak perlu anda berpusing-pusing mencari siapa dalang dibalik semua teror. Carilah orang asing yang paling jelek anda temui, atau orang yang paling misterius. Atau orang yang menurut anda tidak begitu penting namun keberadaannya selalu anda lihat di mana-mana.

Dan yang terakhir, anggap saja ini adalah saran yang paling konyol, kalau terjadi hal yang tidak sesuai dengan petunjuk diatas maka sudah saatnya anda menghubungi penulis. Mereka tahu kemana arah cerita anda. :D

Membaca Elle Eleanor adalah seperti membaca deretan plot tersebut, plot yang terlanjur banyak diulang-ulang oleh para penulis, tidak ada kebaruan. Dalam waktu singkat pun saya bisa menebak gambaran akhir cerita nya. Meski sejujurnya saya cukup terpikat dengan prolognya yang lumayan bisa membuka wacana kebaruan plot thriller ini. Detail psikologi yang pada konteksnya dan tergolong masuk akal juga sesuai dengan latar belakang karakter juga sudah mampu tergarap. Hanya tetap saja hal yang saya kagumi tersebut, hanya merupakan ornamen saja dari keseluruhan cerita tersebut. Dan akhirnya, kembali lagi kita terjebak pada plot yang itu-itu saja sebuah plot yang tipikal kita temui seperti di atas yang telah saya coba ungkapkan.

Tabula Rasa *1) : Pasivitas Manusia dalam Menerima Lingkungan



By statement: Ratih Kumala.
Language: Indonesian
Pagination: vii, 185 p. ;
ISBN 10: 9797327140
LCCN: 2004427677
LC: MLCSE 2004/00936 (P)

Saat saya membaca sebuah novel percintaan - seperti yang diungkapkan oleh salah satu endorsernya - biasanya menjadi suatu hal yang mengasyikkan, dan memang demikianlah adanya. Kemudian, ketika saya menggambarkan isi novel ini dengan menggabungkan efek label Pemenang Ketiga Sayembara Novel DKJ 2003 di sampul depan, tiga orang endorser kelas TOP – dalam artian top, tiga orang erdorser *2) tersebut adalah penulis dan pembangun menara sastra Indonesia, menurut saya tentunya- di bagian belakang, menjadi sebuah jaminan yang “mahal” bahwa ada sajian yang menarik dari novel ini.

Namun menjadi ironi ketika saya menemukan buku ini di tumpukan buku “sale” dengan harga bandrol sepuluh ribu rupiah, di sebuah pameran buku di wilayah Surabaya, saat Surabaya sedang merayakan bulan-bulan HUT eksistensinya sebagai Kota Niaga. Mengapa novel “bermutu” ini ada di keranjang sana, diantara deretan buku yang tidak “popular” dan tidak mempunyai “daya jual” di mata publik Surabaya? Padahal, menurut saya label-label tersebut adalah suatu jaminan. Ah… kemudian saya agak tersenyum kecut tapi lega, minat baca masyarakat Surabaya tidak se-memprihatinkan yang saya kira. Ketika saya cari-cari, buku ini tinggal satu di keranjang tersebut. Kecewa sebenarnya, karena biasanya saya akan membeli lebih untuk saya bingkiskan kepada orang lain.

Ya, kemudian pembicaraan saya berikutnya adalah, marilah mengesampingkan terlebih dahulu problematika market, idealisme dan momentum dalam sebuah penerbitan dan penjualan buku, dan saya malah lebih asyik membicarakan apa di dalam novel yang dibungkus cover putih dengan lukisan semi-absurd, tanpa judul dan tanpa tercantum siapa desainernya dan diberi tajuk “TABULA RASA” ini.

Saya ingat, saya mulai akrab dengan istilah Tabula Rasa ketika saya sedang menempuh pendidikan sarjana saya. Istilah ini seperti sebuah istilah ajaib semacam “Alohamora” dalam mantra “Harry Potter” sebagai pembuka kunci sebuah pintu. Dan saya tahu pintu itu adalah pintu dunia psikologis pembaca. Tabula Rasa adalah juga kata pertama yang didengung-dengungkan dalam diktat disiplin ilmu saya. Simak saja berikut :

Teori “tabula rasa” sebagai kelanjutan pendapat Aristoteles yang secara garis besar menganalogikan manusia ( bayi ) sebagai kertas putih dan menjadikan hitam atau menjadikan berwarna lain adalah pengalaman atau hasil interaksi dengan lingkungannya. Lingkungan dan treatmen dari orang-orang yang berpengaruhlah yang membentuknya melalui proses belajar dan pembiasaan-pembiasaan. Tak ada daya bagi manusia untuk menjadikan hidupnya. Satu-satunya yang menentukan adalah lingkungan. *3)


Apakah itu yang dimaksud oleh penulis? Maka ketika saya membaca, saya ketemukan apakah makna Tabula Rasa menurut penulis, lewat sebuah kutipan salah satu tokoh sentralnya – Raras - sebagai bentuk pasivitas manusia dalam lingkungannya, layaknya bayi, seperti penggalan berikut.

Vi, aku kini tahu siapa aku. Aku dilahirkan sebagai batu tulis kosong. Aku tabula rasa, aku adalah dogma dari aliran empiris yang terbentuk dari jalannya hidup. Aku tak pernah menyesalinya. Aku tak menyesali jalanku. *4)


Raras, perempuan dengan naluri homoseksual perdominan, gamang dengan pilihan akhir hidupnya.

Kalau memang kaum kami berdosa besar, lalu kenapa kaum kami harus diciptakan? Apakah kaum kami berdosa besar, lalu kenapa kaum kami harus diciptakan? Apakah dulu malaikat salah taruh jiwa laki-laki ke tubuh perempuan dan jiwa perempuan ke tubuh laki-laki? …. Aku tidak pernah minta dilahirkan untuk menjadi homoseksual, semua orang juga maunya lahir normal. Maka kuanggap biseksual adalah solusinya, tapi kemudian Argus menasehati agar aku memilih menjadi homoseksual atau heteroseks saja sebab ancaman bahaya untuk kesehatanku jadi lebih besar jika aku menjadi biseksual. *5)

Raras dihadapkan oleh penulis sebagai tokoh yang tidak bisa membuat pillihan hidup, ia seakan-akan telah diberi pilihan dan pilihan itulah yang harus dijalaninya.

Apakah seperti demikian maksud "Tabula Rasa" yang ingin dipresentasikan dalam novel tersebut? Yang saya ingat, ketika pembaca membuka dan mulai membaca, tak pernah ada tabula rasa dalam setiap individu.

Apabila demikian apakah manusia hanya boneka “suatu takdir”, “rencana hidup”, “Tuhan” atau lingkungan sebagai representasi dasar dari pemaknaan Tabula Rasa tersendiri?

Saya ingat, ketika saya mulai membaca, saya mempunyai berjuta-juta rasa tersendiri, patah hati, kecamuk menghidupi diri, masalah pribadi dan berjuta polemik dan permasalahan yang tentu saja BERBEDA dan UNIK dari orang lain. Apabila setiap orang – sebagai satuan unit lingkungan- seperti kertas kosong, tentu tidak ada yang UNIK dari kita bukan? Atau mungkin memang, Raras sebagai tokoh sentral Tabula Rasa merupakan sebuah tokoh sentral dinamika kepasifan manusia atas lingkungannya.

Saya pikir, Tabula Rasa lebih dari sekadar sebuah jalinan cerita reka ulang adegan yang serampangan, karena didalamnya banyak kandungan dinamika psikologis manusia yang dieksplorasi dengan cerdas dan perenungan.



Pencatat :
Nisa Ayu. mahasiswa jebolan S1 Fakultas Psikologi UBAYA


Daftar Rujukan :

*1) Judul novel yang ditulis oleh Ratih Kumala, terbitan PT. Grasindo, tahun 2004.

*2) Tiga endorser tersebut adalah Budi Darma beliau adalah cerpenis, novelis dan pengamat sastra, Maman S. Mahayana, pengamat dan kritikus sastra dan Puthut EA, penulis.

*3) Diambil dari http://74.125.153.132/search?q=cache:vCfhMISEApsJ:edwi.dosen.upnyk.ac.id/PSISOS.1.doc+tabula+rasa+%2B+psikologi&cd=3&hl=id&ct=clnk&gl=id

*4) Tabula Rasa. hal. 183

*5) Ibid. hal. 158-159