Tampilkan postingan dengan label puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label puisi. Tampilkan semua postingan

Kamis, 02 September 2010

Sebuah Surat Kepada Sobat

duduklah sebentar sobat, akan kuceritakan padamu sebuah cerita negeri yang bersahabat. tak punya prasangka pada tetangga yang tengah malam mengendap-endap. diintipnya kami bersarungkan batik meliukkan tubuh di kamarnya menari pendet sembunyi-sembunyi. kami ini negeri pemalu, sobat. meski di dada kami suka dijejali tisu-tisu sumpal kebohongan kami adalah orang kaya, meski badan-badan kami sebenarnya langsing kurus kering.



ibunda kami adalah perempuan-perempuan pemberani, sobat. bekal kami gincu dan bedak diblawurkan muka-muka polos kami. keumalhayati menghimpun bala tentara melarungkan berani semerbak ganda mewangi lantak musuh seketika, takhluk. dan jangan sampai kau salah hang tuah adalah leluhur kami. dan kemudian apa yang kau harapkan atas perlakuan kami selain menggeretakkan gigi, mengepalkan tangan menahan getar di dada. setelah kau perkosa anak-anak perempuan kami yang kau panggil membantumu mengepulkan dapur masakmu, kau gebuki anak-anak lelaki kami dengan pentung dan moncong pistol mengarah ke badan, kepala, kaki, tangan semuanya. borgol-borgol menyerimpung dan tali-tali membelit ujung kaki hingga rambut. merobohkan pagar patok melanggar hak, pertunjukan dan lagu ninabobo yang kau alihnamakan.



cukup sobat, kami bukan anjing-anjing penjilatmu, kugigit tubuhmu kami mampu.

Rabu, 18 Agustus 2010

Catatan : Kerajaan Topi Panci Hijau

militer sekarang sudah merupa menjadi kerajaan-kerajaan kecil, dengan permaisuri yang dilembagakan, dilengkapi dengan prajurit dan ajudan-ajudannya. prajurit dan ajudan itu tidak hanya melayani kebutuhan para raja-raja itu, namun juga para permaisuri, selir bahkan anak-cucu sang raja. fasilitas negara tak hanya dipakai oleh para raja-raja 'pengangguran' itu namun juga oleh anak-cucu sang raja.

kemudian apa yang terjadi ketika mereka ditempatkan pada pertempuran yang sesungguhnya?? mereka lebih memilih lari terbirit-brit atau menggunakan pelor dan amunisi nya kepada warga yang membiayai amunisi itu. atau menabrakkan bemper depan kendaraannya kepada sepeda-sepeda tua milik rakyat yang kebetulan melintas lebh dahulu.

tahukah mereka akan arti "mengantri"? saya rasa tidak tahu, mereka hanya mengerti bahwa mengantri adalah mereka menunggu giliran menyalakkan bedil dan senjatanya kepada garda depan tanpa tameng selain kulit dan tulang yang membungkus mereka.

merekalah yang kuberi nama pejuang, berjuang atas nama kebebasan dan hak-hak yang dicerabut oleh pekik lantang yang seharusnya melembut ketika mereka berbicara dengan sekelompok orang yang bernama

: rakyat

Rabu, 04 Agustus 2010

Sang Penanda Catatan Tanah Merah



Gb : saat membacakan puisi "Bara yang Tak Pernah Padam" karya Mawie Ananta Jonie, pada acara Geladak Sastra 6 : Diskusi 3 Buku LEKRA

kalau kau ajariku angkat senjata, aku hanya bisa ambil pena dari kotak kaleng bundar di sudut mejaku. bahkan untuk membelikannya tinta aku harus memasung lidahku pada tiang pancang gantungan. lidahku membiru, bahkan kalau kau mau, berangsur-angsur cairan otakku pun terhisap keluar, membusuk di tanganmu.

tak ada yang tersisa, bahkan hanya sekedar secarik kertas untuk mengganjal salah satu sisi yang timpang di mejaku, jangankan buku, jangankan catatan baru, jangankan penanda peristiwa dulu, jangankan pidato kemenanganku, sungguh benar-benar tak ada yang tersisa

selain topi baret dan lars berbau tiran menginjak pita mesin tik tua ku dan jari tinggal satu mengeja huruf demi huruf nafasku

aku berdiri karena masa lalu yang membentukku, namun aku merdeka untuk menjadi apa saja, pun bukan menjadi ketakutan masa lalu mu...

04082010