Rabu, 01 Desember 2010

Little Black Book : Rahasia yang Menunggu Terungkap


CAST: STACY - Brittany Murphy DEREK - Ron Livingston KIPPIE KANN - Kathy Bates BARB - Holly Hunter JOYCE - Julianne Nicholson MOM - Sharon Lawrence CARL - Stephen Tobolowsky IRA - Kevin Sussman DR. RACHEL KEYES - Rashida Jones LULU FRITZ - Josie Maran LARRY - Jason Antoon RANDOM - Gavin Rossdale PHIL - Cress Williams BEAN - Dave Annable



CREW: Director: Nick Hurran Written By: Elisa Bell and Melissa Carter Story By: Melissa Carter Producers: Elaine Goldsmith-Thomas, Deborah Schindler, William Sherak and Jason Shuman





Buku harian memang menjadi sesuatu yang tidak bisa dipungkiri menjadi sesuatu benda yang menggambarkan pribadi seseorang secara utuh. Di dalamnya berisi tak hanya cerita atau pengalaman pribadi namun juga rahasia-rahasia paling tersembunyi dari kisah hidup seseorang. Kalau dulu buku harian berbentuk cetak dan kertas, kini revolusi baru diciptakan dalam bentuk tekhnologi. Memuat jutaan rahasia mulai cerita, foto-foto pribadi, hingga nomor kontak mantan pacar



Mungkin rahasia seharusnya tetap menjadi rahasia saja, dan tak usah dibuka.



Kurang lebih seperti itu, kutipan dialog internal dari salah satu tokohnya, yang menjadi titik balik dari film ini.



Sinopsis



Cerita berawal dari kecemburuan Stacy Holt (Brittany Murphy) seorang kru dari sebuah reality-show TV yang ingin menguji kekasihnya Derek (Ron Livingston) atas kesetiaan dan ingin tahu bagaimana masa silam kekasihnya itu. Ia mencari tahu lewat Palm Tungsten C (semacam tekhnologi mirip i-Phone) milik Derek. Dari penelusurannya, ia jadi tahu bahwa Derek pernah mempunyai hubungan dengan tiga perempuan; Lulu Firzt seorang model perempuan terkenal, Joyce seorang koki restoran, dan seorang dokter ginekologi Rachel Keyes



Untuk mengorek-ngorek masa lalu, Derek, Stacy melakukan serangkaian rencana penjebakan. Ia menginterview mantan-mantan Derek dengan mengaku bahwa mereka akan dijadikan subyek utama dalam rangka acara televisi. Lulu yang dijanjikan akan mengisi segmen pembicara “Kegagalan sebuah operasi plastic”, Joyce yang dijanjikan mengisi segmen koki hotel berbakat, dan Rachel Keyes yang dijanjikan mengisi segmen penyuluhan penyakit seks menular.



Stacy selalu bercerita soal segala sesuatunya pada sahabatnya Barb yang juga seorang kru reality show tersebut. Dalam suatu hari Barb memenangkan persaingan sehat atas Stacy dan boss mereka menyetujui Barb memproduseri satu episode siaran langsung reality show tersebut. Dan apa yang terjadi bila cerita tersebut ternyata sebuah cerita milik sahabatnya, Stacy? Maka seperti demikianlah sebuah cerita kehidupan dipaparkan saat segala lekuk perselingkuhan, mata-mematai dan pengkhianatan terjalin dalam rangkaian yang utuh. Tak usah khawatir pada akhir cerita, saya pribadi masih lebih suka cerita film yang berakhir bahagia, dan film ini saya jamin mempunyai kejutan pula di akhir, sama layaknya dengan cerita kehidupan nyata yang selalu penuh kejutan.



Alur



Little Black Book (LBB) sangat cerdas mempermainkan karakter pemainnya. Penonton tentu menyadari bahwa tokoh utama di sebagian besar film adalah “orang baik-baik” namun apa yang disajikan oleh film ini berbeda, bahwa “hero” tak selalu “orang baik-baik”, bahwa manusia adalah manusia.



LBB mampu memutar persepsi tersebut sangat halus dan natural dengan menyajikan konflik batin internal para pelakonnya. Penyajian sudut pandang pertama –aku- versi Stacy mampu menggambarkan konflik batin perempuan (setidaknya saya) bahwa seperti demikianlah perasaan dan mungkin dialog-dialog yang dialami oleh perempuan yang tidak mempercayai pasangannya.



Kejujuran versus kebohongan menjadi latar utama dari cerita ini, disamping juga menggambarkan sebuah dilema ketika kita ingin tahu lebih banyak tentang rahasia hidup pasangan kita, dan mungkin rahasia hidup kita sendiri. Bahwa kadang kala sebuah rahasia ada saatnya tak perlu kita ketahui, tak perlu kita buka dan tak perlu kita korek-korek.


Seperti juga kutipan yang saya rasa bisa menjadi tema utama dari film ini,

Hell is empty. All the devils are here... (William Shakespeare, The Tempest)

Jumat, 17 September 2010

Sekelumit Ingatan : Muhammadiyah, "Sang Pencerah", Keluarga Saya dan Lingkungan Saya




Sewaktu "Sang Pencerah" tayang di layar lebar yang pertama terbersit adalah sang sutradara Hanung Bramantyo, yah… sesungguhnya pertama saya terpikat adalah ketika ia menggarap film sebelumnya Perempuan Berkalung Sorban.

Begitulah konsep hidup keluarga Muhammadiyah, ketika saya mulai tertarik pada diskusi film di beberapa stasiun tivi yang ada. Saya tak akan menjelaskan terlalu banyak tentang film tersebut, justru saya akan bercerita tentang hal-hal yang ada di kepala sehabis kami sekeluarga; saya, adik saya dan Ibu saya, menyaksikan film tersebut.

Dibesarkan dalam lingkungan keluarga bernafas ke-Muhammadiyah-an memang tidak asing di telinga saya. Kakek saya dari pihak ayah adalah penggagas Muhammadiyah Blitar, Nenek saya adalah pembina Aisyiyah dan sebuah panti asuhan, sekolah dan Rumah Sakit Aisyiyah Muhammadiyah pertama di kota itu. Sementara nenek saya dari pihak Ibu adalah simpatisan Muhammadiyah Blitar. Ayah saya pernah bercerita, bahwa dalam menghidupi keberlangsungan panti dan organisasi selain mengandalkan donasi, Muhammadiyah tak pernah sekalipun memungut uang apapun dari anggotanya. Nenek saya lebih banyak memutar otak mengajarkan anak-anak asuhnya untuk “berkarya sendiri” menghidupi kebutuhan panti sendiri. Tak jarang nenek dan kakek menyisihkan uang dari kocek pribadi mereka, gaji pegawai PJKA pada masa itu sepertinya sudah tergolong mapan meski untuk menghidupi ke 10 anak (hahahaha.. keluarga yang sangat besar), dibanding keluarga yang lain di era masa penjajahan. Nenek membantu dengan berjualan kue. Kakek saya juga lumayan mahir bermain biola, dan salah satu putranya juga ada yang mewarisi kebisaannya tersebut. Musik merupakan suatu budaya keluarga yang tak pernah lepas dari keluarga ayah saya saat itu. Selain itu Muhammadiyah Blitar juga memiliki akses olahraga rintisan, sebuah lapangan tennis, kakek saya yang juga katanya ada darah ke-Belanda-belandaan, juga mampu bermain tennis, kebisaannya itupun diwariskan ke anaknya.

Sayangnya, ketika masa penjajahan Jepang, semua itu harus lambat laun direlakan keberadaannya. Muhammadiyah Blitar sempat mengalami masa-masa kebangkrutan, anak-anak panti akhirnya diadopsi oleh sesama pengurus, dan keberadaan Rumah Sakit dan Sekolah untuk sementara dikontrol oleh pengurus yang mampu. Masing-masing mengambil tanggungjawab sesuai kemampuan. Di masa itu, nenek dan kakek saya masih mampu menyantuni dan mengadopsi beberapa anak asuh salah satunya malah tinggal bersama keluarga ayah saya, almarhum pakdhe angkat saya. Beliau adalah seorang anak yatim, martir perang mempertahankan kemerdekaan yang terkena cipratan amunisi sehingga matanya mengalami kebutaan temporer.

Dengan latar belakang Muhammadiyah kami mengalami masa-masa kegamangan ketika berada di lingkungan yang berbeda keyakinan dengan kami. Contoh yang sederhana seperti demikian, saya suka bingung ketika keluarga saya suka ditanya oleh orang-orang ketika Ramadhan tiba, sementara kami sendiri tidak pernah menerapkan tradisi itu.

“Kok, nggak pulang buat nyekar?”

Nyekar dalam budaya Islam – Kejawen adalah budaya berziarah ke makam mendoakan di makam itu juga dan mengirim do’a. Kemudian kata nyekar sendiri berasal dari kata sekar dalam bahasa Jawa yang berarti, bunga. Nyekar artinya upacara tabur bunga di makam, bunga yang ditabur juga harus memenuhi syarat tertentu, kembang boreh kalau diistilahkan terdiri dari bunga tujuh rupa, saya lupa pastinya bunga apa saja itu. Kemudian di makam membaca bacaan Tahlil dan surat Yasin.

Keluarga kami juga sering dicap tidak solider dengan lingkungan sekitar kalau misalnya di lingkungan rumah kami ada yang mengadakan tour ziarah ke makam Wali, kemudian memohonkan hajat yang diingini di depan makam Wali. Keluarga kami memilih tidak ikut acara tersebut dan lebih baik tinggal di rumah, paling ibu hanya bisik-bisik menasehati saya. Jasad orang mati yang jadi tanah, mana bisa mengabulkan permintaan, begitu katanya berulang-ulang. Padahal kalau boleh merunut, ada garis keturunan Sunan Ampel di tubuh kakek saya.

“Lha wong, trah’e wae dungone nang omah kok, gek kesrantan-srantan men, wong-wong kae ziarah sing dudu trah’e nang makam wali, trah’e wae dudu. Kuburan keluargane mbuh diurus po ora. Nggur nggo opo?” (red.Yang punya garis keturunan langsung saja berdoanya di rumah, kok ya menyengsengsarakan sendiri orang-orang itu ziarah ke makam wali, padahal bukan garis keturunannya. Kuburan keluarganya entah diurus atau tidak. Lalu untuk apa?)

“Teko lemah, yo baline ndhuk lemah. Ziarah iku mek digawe ngeling-ngeling trah. Soko endi muasal’e. Dudu digawe klenik opomaneh nyuwun-nyuwun nang ngarep sak liyane Allah” (red. “Dari tanah, akan kembali ke tanah. Ziarah itu diperlukan untuk mengingat-ngingat garis keturunan. Bukan dipakai untuk hal-hal yang berbau klenik apalagi dipakai untuk meminta selain kepada Allah")

Satu hal yang membuat saya jadi mikir adalah ketika ibu saya juga tak pernah datang ke acara pengajian Yasinan ibu-ibu. Ibu memilih mengaji sendiri di rumah atau pengajian-pengajan tadarusan yang umum. Kata-kata ibu juga kemudian saya temukan mirip dengan salah satu kutipan di film “Sang Pencerah”

“Gek ngaji kok mbrebeni tonggone, njur Allah iku ngerti suara ati kok arep dibengoki. Lek arep syiar yo ngajine ditepakke, harakat’e, makhraj’e, tajwid’e. Lek nggak nggenah malah nggowo syiar ala nang Islam.” (red. Mengaji kok mengganggu tetangganya. Allah mengerti suara hati kok pake diteriaki. Kalau mau syiar –red.berdakwah- ya ngajinya diperbaiki, harakatnya, makhrajnya, tajwidnya. Kalau ngajinya tidak benar nantinya malah membawa syiar yang jelek pada Islam)

Dan mungkin itu hanya sebagian kecil cerita-cerita mengenai Muhammadiyah, keluarga saya, saya dan lingkungan sekitar saya. Yang jelas keluarga saya tak pernah menolak hantaran berkat tetangga yang kebetulan mampir ke rumah dan meniatkan bahwa tetangga saya sedang berbagi-bagi rejeki, meski kemudian biasanya akan ada secarik tulisan yang tak pernah kami gubris, yang berbunyi :

“Alhamdulillah, usia anak kami telah genap 40 hari” atau “Telah genap 100 hari meninggalnya Ibunda kami”

Yang jelas ibu kemudian berkata,

“Tidak boleh menolak rezeki. Mubadzir itu temannya syaitan”

Kemudian kalau misalnya ketika sisa makanan kami masih ada di piring makan, nenek pernah mengajarkan saya,

“Diniatkan ngasih makan buat hewan-hewan kecil. Jangan diniatkan membuang-buang makanan, sesungguhnya mubadzir itu temannya syaitan”

Begitulah keluarga saya, yang setelah pulang menonton “Sang Pencerah” saya jadi teringat Almarhum Kakek-Nenek saya, dan ajaran-ajaran beliau. Meski kemudian ketika sampai di rumah, saya harus menerima omelan ibu saya ketika saya menyetel tivi dan menonton acara misteri “Dunia Lain”. Jiakakakakakakakakak…. :)