Srawung Art III (17/06/2010) memasuki moment Sebuah Permulaan karena bersamaan dengan ULTAH ESOK yang ke-2 kembali digelar di ART CAFE, hari Kamis kemarin. Acara dibuka oleh performance art dari Slamet Gaprak yang dimulai pukul 20.00 WIB.
Suasana nampak riuh ramai karena pengunjung tidak sedikit yang datang meski tidak juga banyak. Para penikmat seni ternyata menikmati penampilan dari Slamet Gaprak dengan tajuk "Man Growth" yang melakukan eksperimen di dalam kamar mandi. Aksi ini mengundang perhatian yang tinggi karena dilakukan sendiri dan memanfaatkan media ruang serta gulungan plastik dalam penampilannya.
Dilanjutkan oleh Tina Rch dari Unitomo dengan sebuah karyanya dalam pembacaan puisi di depan podium. Acara pun terus berlalu silih berganti hingga musik Accoustic oleh Sugeng Galih yang merupakan sumbangsih seniman-seniman Surabaya telah mengiringi acara Srawung Art III dengan alunan merdunya.
Seorang teman lama dari Teater Kusuma UNTAG Lian telah menyediakan waktunya untuk membacakan sebuah cerpen karangan Puthut EA pada sela-sela acara yang telah disediakan untuknya dengan apiknya.
Refleksi untuk komunitas ESOK di Tahun ke-2 di hari kelahirannya telah memberikan ruang dan waktu untuk Diskusi dan Bedah Buku Valharald oleh Adi Toha dan Membongkar Misteri Tanda (MMB) oleh Heru Susanto. Pembedah diisi oleh Akhudiat, budayawan yang juga dikenal dalam kiprahnya di dunia teater dan seni lakon dan Umar Fauzi Ballah, eseis dan penyair asal Madura.
Berawal dari mimpi yang menginspirasi, Valharald ditulis oleh Adi Toha. Penulis juga mengakui bahwa ia juga membaca sebuah buku asing, dan terinspirasi dari sebuah karya terkenal J.R. Tolkien, Lord of The Ring dalam proses penggarapan novel fiksi-fantasinya tersebut. Dari pengalaman mimpinya tersebut, ia mengembangkan cerita Valharald.
Sedikit berbeda dengan Adi Toha, penulis Valharald, Heru Susanto, penulis MMB, mengakui bahwa pengalaman pertama menulis adalah ketika ia menulis puisi, kemudan dilanjutkan dengan menulis esei pemula tahun 2006 saat mendengar fenomena lagu Lelaki Buaya Darat (Ratu) yang meledak di pasaran. Esei itu kemudian terbit di Jurnal kampus. Sejak itu rasa percaya dirinya muncul dan meneruskan untuk menelurkan esei-esei berikutnya. Esei-esei itu kemudian dikumpulkan dalam buku Membongkar Misteri Tanda(MMB).
Dalam diskusi tersebut, Akhudiat sebagai pembahas novel Valharald, menyatakan bahwa seharusnya diberikan data referensi. Valharald juga disebut bercerita dengan sebuah tema klasik yaitu kebaikan melawan kejahatan. Ia memaknai bahwa Valharald merupakan novel yang berpihak pada kehidupan. Ia juga mengatakan novel ini adalah novel yang tidak tuntas dan akan ada sambungannya. Bahkan ia juga menambahkan satu kutipan, apakah ini berkaitan dengan kata2 seorang filsuf yang menyatakan bahwa penulis yang baik tidak pernah menyatakan tulisan yang dibuatnya merupakan tulisan yang terbaik, namun tulisan yang akan datanglah yang kemungkinan menjadi seperti itu. Pengunjung juga dibuat terpesona dengan beberapa penguraian istilah-istilah dalam Valharald versinya menurut perbendaharaan kata budaya Jawa. Akhudiat membaca dengan menggunakan sistem anagram yaitu mengartikan filosofi-filosofi dari kata-kata asing dalam Valharald dari huruf-huruf nya secara acak. Contohnya Valharald yang bila diambil unsur hurufnya bisa berarti lahar, atau lava, atau Fionn yang disebutnya mirip dengan sebuah suku kata “pion”, dan masih abnyak lagi contoh-contoh yang ditambahkan.
Tibalah giliran Umar Fauzi Ballah dalam membahas MMB dari kacamata pengamatannya. Ia membaca MMB hampir sama dengan pembacaan Akhudiat dengan mencoba menguraikan kegelisahan-kegelisaan dari Heru Susanto. Ia juga menjelaskan bahwa pemilihan dirinya sebagai pembahas disebabkan Heru Susanto dekat dengan dirinya dan dianggap paham atas pola kegelisahan yang ada di benak Heru Susanto. Ia juga tidak memungkiri sanggahan dari moderator Diana AV Sasa bahwa buku MMB seperti membaca sebuah literatur kuliah yang kurang menarik. Oleh sebab itu, ia membenarkan bahwa MMB terasa berat dan tidak bisa dibaca dengan santai.
Dua pertanyaan dari penonton menambah seru perbincangan tersebut, pertanyaan pertama dilontarkan oleh Neni (UNESA) yang memandang ada perbedaan background pendidikan penulis antara Valhard dengan MMB yg lebih akademis. Pertanyaan tersebut dibenarkan oleh Adi Toha bahwa ia menyadari bahwa latar belakangnya yang bukan berasal dari sastra menjadi salah satu penyebab bahwa ia menulis secara otodidak dan tidak mengandung keakademisan sastra. Ia juga mengakui bahwa hal itu sama sekali berbeda dengan latar belakang pendidikannya yang selama ini berhubungan dengan ilmu pasti dan menghadapi rumus-rumus, namun hal itu bukan menjadi masalah bagi dirinya.
Alex dari UNESA juga menanyakan pada Heru Susanto apakah kegelisahan itu berhenti cukup ini berhenti seperti ini saja? Ketika sudah membaca tanda-tanda apa yang dilakukan dalam kegelisahan itu.
Bagi Heru Susanto, setidaknya itulah proses kreatif yang dilakukan, lebih baik menulis daripada tidak menulis. Ia juga menambahkan beberapa pendapat untuk menyanggah pendapat moderator, kutipan-kutipan yang dimuat dalam bukunya, Bagi Heru Susanto kutipan-kutipan tersebut menurutnya tidak masalah ada dicantumkan.karena menurutnya bahkan orang awam pun mampu membuat kutipan yang dibuat akademisi dalam fenomena yang terjadi. Buku MMB baginya juga memang diperuntukkan oleh akademisi sastra dan peminat dari kalangan disiplin ilmu humaniora.
Diskusi ditutup oleh moderator Diana AV Sasa, bahwa sebuah hal yang patut disesalkan bahwa pihak penyelenggara menempatkan bedah buku MMB salah sasaran akibat sebenarnya buku tersebut sebenarnya untuk kalangan terbatas. Namun gagasan ini disambut baik dengan adanya sebuah benang merah bahwa Valharald dan MMB keduanya merupakan buku pertama yang ditulis oleh penulisnya, dan semangat itu pulalah yang diambil sebagai nyawa dari tema yang diangkat oleh Srawung Art edisi Juni ini, yaitu Sebuah Permulaan.
Setelah diskusi, dibagikan pula hadiah doorprize, dua diantaranya merupakan peserta yang mengajukan pertanyaan tanya jawab pada saat diskusi buku. Dan yang lain dberikan sebagai hadiah karena telah menjawab pertanyaan dari panitia.
Edisi Srawung Art Juni kemudian ditutup dengan pemutaran video singkat kiprah ESOK dalam dua tahun perjalanan keorganisasiannya, dan sebuah sajian apik dari band inde GeTa Band yang membawakan tiga komposisi lagunya.(icha/nis)
Minggu, 20 Juni 2010
Senin, 10 Mei 2010
Valharald : Lawan...!!!!!
Judul : VALHARALD : Ksatria Talismandala dan Pertempuran di Vincha
Pengarang : Adi Toha
Penerbit : Diva Press
ISBN : 97860295*****
Tebal : 411 Halaman
Sinopsis (1)
VALHARALD adalah sebuah novel fiksi fantasi karya Adi Toha. Berkisah tentang perjalanan dan petualangan 12 Ksatria Talismandala dalam menjalani misi dan takdirnya sebagai ksatria cahaya, menyelamatkan negeri VarchLand dari Kekuatan Kegelapan. Kedua belas Ksatria Talismandala ini merupakan orang-orang yang terpilih dengan keunikan dan karakteristik tersendiri dari beragam suku. Menjadi istimewa dengan jati diri dan latar belakangnya masing-masing.
Dalam perjalanannya 12 Ksatria Talismandala tersebut dibekali oleh sebuah kunci berbentuk segitiga yang berfungsi untuk membuka senjata rahasia dan peralatan perang yang telah lama tersimpan di tempat yang juga terahasia. Disamping senjata dan peralatan rahasia tersebut, tersimpan pula Mahkota Liafala, mahkota tertinggi negeri Varchland.
Barangkali itulah yang ingin disampaikan dalam kisah Valharald. Dua belas ksatria bisa jadi adalah diri kita yang tengah terpanggil untuk melakukan sebuah perubahan besar dalam hidup, namun kita selalu saja dilanda pertanyaan-pertanyaan: benarkah saya harus berubah? Beranikah kita untuk melakukan sesuatu yang besar dalam hidup kita?
Melawan atau Mati!
Mutiara Kecil itu…
Kejadian demi kejadian dalam hidup membawa kita kepada satu titik. Jika kita melihat ke belakang dan menyadari sepenuhnya bahwa tibanya kita di satu titik itu adalah sebuah keharusan. Kita akan semakin yakin untuk melangkah ke titik-titik selanjutnya. Meski kita tidak akan pernah tahu apa yang akan kita temui di titik-titik itu. (2)
Kau tidak bisa menjanjikan apa yang belum tentu kau dapatkan. Jangan pernah menjanjikan itu. Kadang takdir tidak berjalan sesuai dengan harapan kita. Apa yang telah kita harapkan, apa yang kita janjikan, apa yang telah kita nanti-nantikan semuanya bisa hilang dan musnah dalam sekejap. (3)
Untuk apa kita takut pada sesuatu yang belum jelas keberadaannya? Kalau pun mereka memang ada, belum tentu mereka akan menyerang kita. Siapa tahu justru mereka akan membantu kita untuk menyelesaikan ujian nanti... (Dialog Fionn). (4)
Jangan pernah menyesali apa yang telah dilenyapkan oleh waktu, ia tidak akan pernah kembali, ia tidak akan pernah kita jumpai lagi karena apa yang telah dilenyapkan oleh waktu sungguh telah berada pada sebuah tempat yang sangat jauh.... (5)
Begitulah beberapa penggalan kata-kata filosofis yang menarik perhatian saya dan bahkan saya dokumentasikan sendiri. Tak banyak namun cukup. Saya katakan beginilah seharusnya sebuah cerita dikisahkan. Ketika membaca Valharald, saya menjadi teringat masa-masa ketika paman saya memberikan dongeng sebelum tidur. Atau mungkin seperti inilah tepatnya ketika seorang penutur di masa itu menceritakan dongeng kepada anak-anak.
Valharald tidak hanya menuturkan cerita atau sekedar curahan hati. Ketika seorang pencerita asyik pada dunianya terkadang ia terjebak pada dunia eksklusifnya, membentengi diri pada pembacanya, tidak mempunyai kontak dengan penikmatnya. Penikmat sering kali dibuat bingung dengan kelebatan-kelebatan peristiwa atau gaya tuturan yang terlalu “aku”. Valharald berusaha menyentuh saya ketika penulis menyisipkan kata-kata atau pesan-pesan filosofisnya secara halus. Bahkan, saya merasa sedang berdialog dengan tokoh tersebut. Menemukan kata-kata filosofis seperti yang saya coba bocorkan di atas, menjadi sebuah “harta karun” kecil yang membuat saya keasyikan dalam dunia Valharald, dan tidak merasa digurui.
Kata-kata filosofis itulah yang saya akui menjadi semacam “reward” kecil ketika saya “dibujuk” tanpa sadar oleh penulis untuk semakin menyelami petualangan demi petualangan, cerita demi cerita, bahkan pertarungan demi pertarungan dari tokohnya. Saya bahkan tidak segan mencatat ulang, mendokumentasikan kata-kata filosofis itu. Novel ini tidak hanya menjadi semacam penghibur namun juga memancing saya untuk membaca secara aktif, terlibat secara emosi maupun retrospeksi dengan penggalan-penggalan kata-kata filosofis, yang entah sadar atau tidak terselip di banyak bagian dialog-dialog tokoh-tokohnya. Saya malah mempunyai pemikiran, apakah seperti demikian pemikiran-pemikiran filosofis yang ada dalam benak penulis?
Membaca-i “Manusia Fiktif” itu…
Di satu sisi saya sangat menikmati “harta karun” itu, di satu sisi lain saya harus terheran-heran dengan kekurangdetailan penulis dalam menangkap gejala-gejala lumrah “manusia”. Satu kejanggalan yang saya tangkap diantaranya adalah ketika penulis menuturkan persahabatan tiga orang pemuda Fionn, Urias dan Cymrodor dengan kaku. Tak ada sekelumit pun percakapan me“manusia” yang nampak, tak ada hal-hal konyol yang tesembul, tak ada keakraban atau kelucuan-kelucuan akrab khas gambaran sebuah persahabatan yang terjalin sangat lama, bahkan semenjak lahir. Tak ada kutipan-kutipan khas “boys talk” yang bisa saya temui.
Keganjilan lain adalah, usia penokohan itu sangat beragam, mulai dari yang masih paruh baya, hingga yang sudah setengah abad, namun sangat aneh apabila gaya bicara mereka juga harus meniru satu sudut pandang saja. Sangat kaku dan tidak menunjukkan pembeda sesuai dengan usia yang dituturkan oleh penulis. Begitu juga latar belakang kesukuan tokohnya, penulis masih belum memikirkan bagaimana meng”karakter”kan tokohnya, padahal ke-12 Ksatria Talismandala merupakan ksatria terpilih dari berbagai suku.
“Bungkus” Dongeng itu…
Saya masih ingat ketika mendapat cetakan pertama novel ini, mata saya langsung tertuju pada sebuah label merah yang tertera di bagian sampul depan cover ini. “Novel yang akam membuatmu GEMETAR”, begitulah yang ter-emboss di cover depan Valharald. Saya rasa emboss ini malah mengebiri konten dari novel ini. Tak ada satu isi pun yang membuat pembaca GEMETAR. Tentu lain soal apabila novel ini merupakan novel horror, saya rasa emboss GEMETAR masih cukup layak. Alih-alih kata GEMETAR, saya lebih menyarankan editor untuk mengalami edisi pembacaan saya dan mengganti kata GEMETAR dengan kata-kata lain. Tergetar, misalnya. Kata “tergetar” menurut saya lebih mewakili karena bisa menggambarkan pembaca yang akan dibuat tergetar secara pikir, emosi dan perbuatan dalam melakukan perlawanan atas ujian atau perbaikan-perbaikan perilaku seperti yang dituturkan sang penulis. Kalau memungkinkan lebih baik kalau emboss itu tak usah ada sama sekali saja, atau dalam bahasa sederhananya ditiadakan.
Saya juga kecewa ketika cover tersebut tidak memiliki orisinalitas dari segi desain cover. Setiap mata pasti langsung mengingat bahwa desain cover Valharald secara jelas mengambil dari gambar film epik-fantasi luar negeri yang telah terlebih dahulu tayang beberapa tahun lalu. Menggabung-gabungkan beberapa film secara “montage”, kemudian diedit sedemikian rupa, dan diberi judul “Valharald”.
Sinopsis di bagian belakang juga saya anggap kurang menarik perhatian saya, terlalu dilebih-lebihkan dan menurut saya hanya sekedar “lips marketing” yang kurang cerdas membaca konten Valharald sesungguhnya. Suatu saat saya coba mengintip deskripsi yang dibuat sendiri oleh penulisnya dalam sebuah grup jejaring pertemanan, dan saya akui deskripsi sinopsis yang diberikan jauh lebih membuat saya tertarik, dibanding yang diberikan di novelnya.
Kekecewaan saya pada kemasan Valharald rupanya bisa menjadi catatan tersendiri bagi editor, disamping beberapa kesalahan-kesalahan penulisan kata yang kerap kali saya temukan di sana-sini. Apakah Valharald terburu-buru dalam proses penyuntingan? Bagi saya, hal itu sangat disayangkan bagi bayi novel cerdas dan boleh dikatakan inspiratif namun terlahir secara prematur oleh penerbitnya.
Valharald bagi saya…
Novel ini sedikit banyak memiliki ikatan emosional dengan saya di sana-sini. Di satu saat saya bahkan mengakui merasa dekat dengan Gwyneira yang menyukai kupu-kupu, dan menyelami dialog-dialog filosofis nya dengan Fionn. Di saat yang lain, saya harus dibuat terharu dengan Eira yang dalam beberapa hal mempunyai pengalaman yang bagi saya mendekati pengalaman hidup saya. Satu kata, menyentuh, namun bukan sebagai sebuah tulisan yang berisi tentang kecengengan yang mengharu-biru. Valharald bercerita tentang ketegaran dan perlawanan atas ujian hidup. Seperti yang termaktub dalam salah satu kutipannya.
Harga dari sebuah perjuangan adalah ujian. Yang tak sanggup bertahan dan kalah akan tersingkir. Yang sanggup bertahan dan memenangkan perjuangan akan tetap hidup. Bukankah kehidupan adalah serangkaian pertarungan? (6)
Begitulah Valharald yang ditutup dengan sebuah bab pertempuran dengan ending yang menggantung dan menjanjikan kelanjutan pengisahan perlawanan berikutnya. Apakah Valharald menjadi korban kutipannya sendiri? Menjadi kisah yang akan dengan mudah “dilenyapkan oleh waktu” atau tidak, yang pasti saya tidak sabar menanti kelanjutan dari novel ini.
Referensi :
1. Sinopsis sebagian diambil dari info grup Facebook Valharald, http://www.facebook.com/?sk=messages&tid=413848564461#!/group.php?gid=120690074616363&ref=ts
2. Valharald, hal. 135
3. Valharald, hal. 214
4. Valharald, hal. 52
5. Valharald, hal.10
6. Valharald, hal.129
Pengarang : Adi Toha
Penerbit : Diva Press
ISBN : 97860295*****
Tebal : 411 Halaman
Sinopsis (1)
VALHARALD adalah sebuah novel fiksi fantasi karya Adi Toha. Berkisah tentang perjalanan dan petualangan 12 Ksatria Talismandala dalam menjalani misi dan takdirnya sebagai ksatria cahaya, menyelamatkan negeri VarchLand dari Kekuatan Kegelapan. Kedua belas Ksatria Talismandala ini merupakan orang-orang yang terpilih dengan keunikan dan karakteristik tersendiri dari beragam suku. Menjadi istimewa dengan jati diri dan latar belakangnya masing-masing.
Dalam perjalanannya 12 Ksatria Talismandala tersebut dibekali oleh sebuah kunci berbentuk segitiga yang berfungsi untuk membuka senjata rahasia dan peralatan perang yang telah lama tersimpan di tempat yang juga terahasia. Disamping senjata dan peralatan rahasia tersebut, tersimpan pula Mahkota Liafala, mahkota tertinggi negeri Varchland.
Barangkali itulah yang ingin disampaikan dalam kisah Valharald. Dua belas ksatria bisa jadi adalah diri kita yang tengah terpanggil untuk melakukan sebuah perubahan besar dalam hidup, namun kita selalu saja dilanda pertanyaan-pertanyaan: benarkah saya harus berubah? Beranikah kita untuk melakukan sesuatu yang besar dalam hidup kita?
Melawan atau Mati!
Mutiara Kecil itu…
Kejadian demi kejadian dalam hidup membawa kita kepada satu titik. Jika kita melihat ke belakang dan menyadari sepenuhnya bahwa tibanya kita di satu titik itu adalah sebuah keharusan. Kita akan semakin yakin untuk melangkah ke titik-titik selanjutnya. Meski kita tidak akan pernah tahu apa yang akan kita temui di titik-titik itu. (2)
Kau tidak bisa menjanjikan apa yang belum tentu kau dapatkan. Jangan pernah menjanjikan itu. Kadang takdir tidak berjalan sesuai dengan harapan kita. Apa yang telah kita harapkan, apa yang kita janjikan, apa yang telah kita nanti-nantikan semuanya bisa hilang dan musnah dalam sekejap. (3)
Untuk apa kita takut pada sesuatu yang belum jelas keberadaannya? Kalau pun mereka memang ada, belum tentu mereka akan menyerang kita. Siapa tahu justru mereka akan membantu kita untuk menyelesaikan ujian nanti... (Dialog Fionn). (4)
Jangan pernah menyesali apa yang telah dilenyapkan oleh waktu, ia tidak akan pernah kembali, ia tidak akan pernah kita jumpai lagi karena apa yang telah dilenyapkan oleh waktu sungguh telah berada pada sebuah tempat yang sangat jauh.... (5)
Begitulah beberapa penggalan kata-kata filosofis yang menarik perhatian saya dan bahkan saya dokumentasikan sendiri. Tak banyak namun cukup. Saya katakan beginilah seharusnya sebuah cerita dikisahkan. Ketika membaca Valharald, saya menjadi teringat masa-masa ketika paman saya memberikan dongeng sebelum tidur. Atau mungkin seperti inilah tepatnya ketika seorang penutur di masa itu menceritakan dongeng kepada anak-anak.
Valharald tidak hanya menuturkan cerita atau sekedar curahan hati. Ketika seorang pencerita asyik pada dunianya terkadang ia terjebak pada dunia eksklusifnya, membentengi diri pada pembacanya, tidak mempunyai kontak dengan penikmatnya. Penikmat sering kali dibuat bingung dengan kelebatan-kelebatan peristiwa atau gaya tuturan yang terlalu “aku”. Valharald berusaha menyentuh saya ketika penulis menyisipkan kata-kata atau pesan-pesan filosofisnya secara halus. Bahkan, saya merasa sedang berdialog dengan tokoh tersebut. Menemukan kata-kata filosofis seperti yang saya coba bocorkan di atas, menjadi sebuah “harta karun” kecil yang membuat saya keasyikan dalam dunia Valharald, dan tidak merasa digurui.
Kata-kata filosofis itulah yang saya akui menjadi semacam “reward” kecil ketika saya “dibujuk” tanpa sadar oleh penulis untuk semakin menyelami petualangan demi petualangan, cerita demi cerita, bahkan pertarungan demi pertarungan dari tokohnya. Saya bahkan tidak segan mencatat ulang, mendokumentasikan kata-kata filosofis itu. Novel ini tidak hanya menjadi semacam penghibur namun juga memancing saya untuk membaca secara aktif, terlibat secara emosi maupun retrospeksi dengan penggalan-penggalan kata-kata filosofis, yang entah sadar atau tidak terselip di banyak bagian dialog-dialog tokoh-tokohnya. Saya malah mempunyai pemikiran, apakah seperti demikian pemikiran-pemikiran filosofis yang ada dalam benak penulis?
Membaca-i “Manusia Fiktif” itu…
Di satu sisi saya sangat menikmati “harta karun” itu, di satu sisi lain saya harus terheran-heran dengan kekurangdetailan penulis dalam menangkap gejala-gejala lumrah “manusia”. Satu kejanggalan yang saya tangkap diantaranya adalah ketika penulis menuturkan persahabatan tiga orang pemuda Fionn, Urias dan Cymrodor dengan kaku. Tak ada sekelumit pun percakapan me“manusia” yang nampak, tak ada hal-hal konyol yang tesembul, tak ada keakraban atau kelucuan-kelucuan akrab khas gambaran sebuah persahabatan yang terjalin sangat lama, bahkan semenjak lahir. Tak ada kutipan-kutipan khas “boys talk” yang bisa saya temui.
Keganjilan lain adalah, usia penokohan itu sangat beragam, mulai dari yang masih paruh baya, hingga yang sudah setengah abad, namun sangat aneh apabila gaya bicara mereka juga harus meniru satu sudut pandang saja. Sangat kaku dan tidak menunjukkan pembeda sesuai dengan usia yang dituturkan oleh penulis. Begitu juga latar belakang kesukuan tokohnya, penulis masih belum memikirkan bagaimana meng”karakter”kan tokohnya, padahal ke-12 Ksatria Talismandala merupakan ksatria terpilih dari berbagai suku.
“Bungkus” Dongeng itu…
Saya masih ingat ketika mendapat cetakan pertama novel ini, mata saya langsung tertuju pada sebuah label merah yang tertera di bagian sampul depan cover ini. “Novel yang akam membuatmu GEMETAR”, begitulah yang ter-emboss di cover depan Valharald. Saya rasa emboss ini malah mengebiri konten dari novel ini. Tak ada satu isi pun yang membuat pembaca GEMETAR. Tentu lain soal apabila novel ini merupakan novel horror, saya rasa emboss GEMETAR masih cukup layak. Alih-alih kata GEMETAR, saya lebih menyarankan editor untuk mengalami edisi pembacaan saya dan mengganti kata GEMETAR dengan kata-kata lain. Tergetar, misalnya. Kata “tergetar” menurut saya lebih mewakili karena bisa menggambarkan pembaca yang akan dibuat tergetar secara pikir, emosi dan perbuatan dalam melakukan perlawanan atas ujian atau perbaikan-perbaikan perilaku seperti yang dituturkan sang penulis. Kalau memungkinkan lebih baik kalau emboss itu tak usah ada sama sekali saja, atau dalam bahasa sederhananya ditiadakan.
Saya juga kecewa ketika cover tersebut tidak memiliki orisinalitas dari segi desain cover. Setiap mata pasti langsung mengingat bahwa desain cover Valharald secara jelas mengambil dari gambar film epik-fantasi luar negeri yang telah terlebih dahulu tayang beberapa tahun lalu. Menggabung-gabungkan beberapa film secara “montage”, kemudian diedit sedemikian rupa, dan diberi judul “Valharald”.
Sinopsis di bagian belakang juga saya anggap kurang menarik perhatian saya, terlalu dilebih-lebihkan dan menurut saya hanya sekedar “lips marketing” yang kurang cerdas membaca konten Valharald sesungguhnya. Suatu saat saya coba mengintip deskripsi yang dibuat sendiri oleh penulisnya dalam sebuah grup jejaring pertemanan, dan saya akui deskripsi sinopsis yang diberikan jauh lebih membuat saya tertarik, dibanding yang diberikan di novelnya.
Kekecewaan saya pada kemasan Valharald rupanya bisa menjadi catatan tersendiri bagi editor, disamping beberapa kesalahan-kesalahan penulisan kata yang kerap kali saya temukan di sana-sini. Apakah Valharald terburu-buru dalam proses penyuntingan? Bagi saya, hal itu sangat disayangkan bagi bayi novel cerdas dan boleh dikatakan inspiratif namun terlahir secara prematur oleh penerbitnya.
Valharald bagi saya…
Novel ini sedikit banyak memiliki ikatan emosional dengan saya di sana-sini. Di satu saat saya bahkan mengakui merasa dekat dengan Gwyneira yang menyukai kupu-kupu, dan menyelami dialog-dialog filosofis nya dengan Fionn. Di saat yang lain, saya harus dibuat terharu dengan Eira yang dalam beberapa hal mempunyai pengalaman yang bagi saya mendekati pengalaman hidup saya. Satu kata, menyentuh, namun bukan sebagai sebuah tulisan yang berisi tentang kecengengan yang mengharu-biru. Valharald bercerita tentang ketegaran dan perlawanan atas ujian hidup. Seperti yang termaktub dalam salah satu kutipannya.
Harga dari sebuah perjuangan adalah ujian. Yang tak sanggup bertahan dan kalah akan tersingkir. Yang sanggup bertahan dan memenangkan perjuangan akan tetap hidup. Bukankah kehidupan adalah serangkaian pertarungan? (6)
Begitulah Valharald yang ditutup dengan sebuah bab pertempuran dengan ending yang menggantung dan menjanjikan kelanjutan pengisahan perlawanan berikutnya. Apakah Valharald menjadi korban kutipannya sendiri? Menjadi kisah yang akan dengan mudah “dilenyapkan oleh waktu” atau tidak, yang pasti saya tidak sabar menanti kelanjutan dari novel ini.
Referensi :
1. Sinopsis sebagian diambil dari info grup Facebook Valharald, http://www.facebook.com/?s
2. Valharald, hal. 135
3. Valharald, hal. 214
4. Valharald, hal. 52
5. Valharald, hal.10
6. Valharald, hal.129
Langganan:
Postingan (Atom)